120 Pemimpin Dunia Hadiri KTT Perubahan Iklim Glasgow

207
Anak-anak warga Takengon bergembira berenang di tepian Danau Laut Tawar, sebagai sumber air baku danau ini menghidupi jutaan warga. Komunitas global dinilai perlu lebih berperan mendukung upaya pelestariannya dari dampak perubahan iklim dan pandemi./dok

Inggris meluncurkan Program Presidensi untuk mendorong ambisi iklim global di COP26

Jakarta, tanohgayo.com – Pekan ini, Inggris telah meluncurkan program acara Kepresidenannya untuk KTT COP26 selama dua minggu, yang berlangsung di Glasgow dari 31 Oktober – 12 November.

Program ini dimulai dengan KTT Pemimpin Dunia (1-2 November), oleh tuan rumah yaitu Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dihadiri lebih dari 120 pemimpin yang telah mengkonfirmasikan kehadiran mereka, termasuk Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Padat agenda

Hampir 50 acara yang diadakan dibawah Presidensi Inggris di COP26 akan menampilkan aksi dan mendukung momentum dari seluruh masyarakat pada konferensi perubahan iklim yang diadakan selama dua minggu ini. Program mencerminkan komitmen Presidensi COP26 terhadap inklusivitas dengan menyatukan masyarakat sipil, bisnis, dan kaum muda. Inggris juga menampilkan program untuk Paviliun Inggris yang akan menyoroti kepemimpinan Inggris dalam iklim.

Semua pemimpin dunia telah didorong untuk menetapkan aksi yang ambisius untuk mengurangi emisi – termasuk nol bersih dan batu bara, mobil, dan pohon, meningkatkan aksi untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim dan memobilisasi keuangan, serta secara kolektif menandakan komitmen mereka untuk mempertahankan tujuan penting Perjanjian Paris guna membatasi kenaikan suhu global di bawah 2C, dan sebisa mungkin mendekati 1,5C.

Bersamaan dengan beberapa negosiasi formal, acara program kepresidenan yang berlangsung selama dua minggu ini akan menyoroti bagaimana semua lapisan masyarakat dan ekonomi global mendukung aksi iklim yang ambisius.

Pendanaan iklim

Serangkaian acara- acara ini juga akan membahas beberapa tema utama yaitu keuangan, beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, transisi energi, alam dan penggunaan lahan, gender, dan kaum muda. Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak yang akan membuka di hari pertama, dengan tema pembahasan mengenai bagaimana pendanaan dapat tersedia untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris, dan kementerian di pemerintahan Inggris akan menghadiri acara secara keseluruhan selama dua minggu.

Pendidikan dan perubahan iklim

Acara lainnya termasuk mendorong diskusi tentang peralihan dari batu bara ke energi bersih; menanggapi laporan IPCC baru-baru ini yang akan dibahas di hari Sains dan Inovasi; dan pertemuan menteri pendidikan dan perubahan iklim dengan kaum muda untuk membahas pentingnya pendidikan dalam menciptakan masa depan yang positif terhadap iklim.
Pada hari Adaptasi, Loss & Damage, komunitas garis depan akan membagikan pengalaman mereka mengenai dampak terburuk dari perubahan iklim. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi tingkat kementerian terkait upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Menampilkan 80 Paviliun

Peserta KTT juga akan dapat terinspirasi oleh lebih dari 80 Paviliun yang akan ditampilkan oleh negara-negara, masyarakat sipil dan organisasi internasional yang menyelenggarakan program acara mereka sendiri, termasuk Indonesia. Sejalan dengan komitmen Inggris terhadap inklusivitas, COP26 adalah konferensi perubahan iklim pertama yang mengusulkan paviliun bersama, memungkinkan para delegasi untuk menyelenggarakan acara di paviliun yang dibangun oleh Inggris.

Inggris juga mempublikasikan programnya untuk Paviliun Inggris, yang akan mendukung tujuan utama Kepresidenan COP26, menunjukkan kepemimpinan dan tindakan terhadap iklim Inggris hingga sekarang, dan di masa depan. Misalnya, dalam 30 tahun terakhir, ekonomi Inggris telah tumbuh sebesar 78%, sementara emisi berkurang sebesar 44% – menunjukkan bahwa Anda dapat menumbuhkan ekonomi dan mengatasi perubahan iklim pada saat yang bersamaan. Ini berarti Inggris telah mendekarbonisasi lebih cepat daripada negara G20 lainnya dan mengurangi emisi gas rumah kaca lebih cepat daripada negara G7 lainnya sejak 2010. Dan Inggris telah berkomitmen untuk sepenuhnya beralih ke sumber energi baru terbarukan pada tahun 2035 dengan fokus pada tenaga angin, hidrogen, dan energi nuklir.

Paviliun Inggris akan menampilkan berbagai mitra dan acara, termasuk kesetaraan gender, dan mendukung masyarakat lokal dan komunitas perhutanan lokal.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins dalam keterangan persnya baru-baru ini mengatakan.

“Tinggal 5 hari lagi menuju dimulainya COP26 di Glasgow. Sangat menyenangkan bahwa Indonesia akan hadir dan terlihat – tidak terkecuali melalui program paviliun unggulan Indonesia. Kami berharap COP26 akan membangun momentum yang diperoleh melalui KTT G7, Sidang Umum PBB bulan lalu, dan pertemuan G20 di Italia. Waktu untuk hanya berkata-kata hangat sudah berakhir. Ekonomi terbesar dunia memang perlu bertindak, dan memberi contoh. Perubahan Iklim dan pemanasan global merupakan hal yang sangat mendesak untuk ditangani sehingga kita diminta untuk mengambil tindakan saat ini juga – tidak hanya tidak hanya untuk generasi mendatang, tetapi untuk kelangsungan hidup kita sendiri.”ungkap Dubes Owen.

Rangkaian Program Kepresidenan KTT Iklim Glasgow mencakup keuangan; energi; pemberdayaan pemuda dan masyarakat; alam dan penggunaan lahan; adaptasi, loss dan damage; gender; ilmu pengetahuan dan inovasi; transportasi dan kota, wilayah dan lingkungan binaan. Publik juga dapat terlibat dengan lebih dari 200 acara yang diselenggarakan di Zona Hijau yang dikelola Inggris di Glasgow antara Senin, 1 November dan Jumat 12 November. (RL)