Home Ekonomi Akademisi: UMKM Aceh Jangan “Remuk” Karena Pandemi

Akademisi: UMKM Aceh Jangan “Remuk” Karena Pandemi

57
Pelaku UMKM Aceh Firmansyah (47) dan rekan menunjukan karya sauvenir ikan hiu pajangan yang terbuat dari serpihan kayu olahan bekas. Foto Tanohgayo/AgusRB

Banda Aceh, Tanohgayo – Ekonom Universitas Syiah Kuala DR Iskandar Madjid mengatakan, bahwa sektor ekonomi , terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UMKM mesti mendapat cukup perhatian pemerintah di masa pendemi.

Iskandar Madjid mengakui secara umum ekonomi ikut terpapar pandemi, namun UMKM sebagai salah satu kekuatan tetap harus bangkit dan mendapat perhatian ekstra oleh pemerintah daerah.

“UMKM jadi salah satu tulang punggung ekonomi, produk-produk olahan rumahan selama pandemi terbukti laku dan diminati warga lokal”, tutur Iskandar yang juga Direktur Pusat Pengembangan UMKM Unsyiah baru-baru ini di Banda Aceh.

Iskandar Madjid mengatakan distribusi bantuan pemerintah terhadap pelaku UMKM perlu ditindaklanjuti dan diberikan perhatian khusus.

“Agar UMKM tetap bertahan, namun pendampingan tetap harus dilakukan jangka panjang sampai pandemi benar-benar reda,” imbuh Iskandar.

Menurut Iskandar, unit-unit usaha yang bertahan dan mendapat bantuan tentu berdampak langsung terhadap kesejahteraan dan kesehatan warga.

“Ini kalau pelaku usaha sejahtera keluarga sehat tentu jandi solusi menghadapi pandemi,” tambah Iskandar.

Iskandar menjelaskan, terdapat Lebih 200 ribu pelaku UMKM dan Koperasi di Aceh, lebih separuhnya diperkirakan ikut terdampak selama pandemi. Kendala pemasaran yang paling banyak dikeluhkan pelaku UMKM.

“Perlu ada intervensi untuk membantu pelaku UMKM, ini bisa dari perusahaan dan pemerintah,” jelasnya.

Amatan Kabargayo di lapangan, pelaku UMKM produktif Aceh sebagian besar menghasilkan produk makanan dan minuman olahan, souvenir, konveksi dan ragam produk batik lokal Aceh , untuk konsumsi lokal dan sebagian kecil yang layak ekspor.

Firmansyah (47) warga Surin Punge Banda Aceh mengaku kesulitan memasarkan produk-produk makanan olahan dan kerajinan souvenir buatannya.

“Ada swalayan jaringan yang menampung di kota, ada rak khsusus buat memajang produksi olahan rumahan untuk dijual, namun masih sulit laku,” jelas Firman di lokasi mini galerinya di Punge.

Firman membuat sauvenir cindramata unik berbentuk jenis ikan laut yang jadi favorit anak dan remaja terbuat dari serpihan sisa kayu olahan. Harga souvenirnya terjangkau antara Rp 50.000 hingga Rp 1 Juta.

Firman menambahkan usahanya belum tersentuh bantuan pandemi, dan berharap ada dukungan csr korporat atau lembaga pemerintah kota dan lainnya.

Menurut Firman aspek kesehatan jadi prioritas keluarga masa pandemi, tentu ditopang dengan stabilitas ekonomi keluarga yang cukup.

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Aceh, Jokowi melakukan peresmian satu satunya Jalan Tol di Aceh, Tol Sigli-Banda Aceh. Sebelum bertolak kembali ke Jakarta, Presiden menyalurkan secara simbolis Bantuan Presiden (Banpres) Produktif Usaha Mikro kesejumlah pelaku UMKM di Aceh.

Laporan-laporan dinas terkait, Aceh bertekad terus berinovasi untuk membantu pelaku UKM yang terimbas pandemi. Selain menggelar survei terhadap pelaku UMKM yang berdampak secara langsung, juga membantu membuka pasar online bagi sedikitnya 200 ribu pelaku UMKM di provinsi itu.

Sejak diluncurkan Agustus 2020 lalu, Indonesia rencananya akan memberikan bantuan produktif kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), tahap pertama bantuan disalurkan kepada lebih 9 juta pelaku UMKM dari sekitar 12 juta UMKM , dengan total bantuan sebesar Rp 22 triliun.

Langkah itu bertujuan sebagai stimulus dan membantu perekonomian para pelaku UMKM yang terdampak Covid-19. (Agus Rahmad B)