“Peger ni Keben”, Konsep Ketahanan Pangan Masyarakat Gayo

By tgadmin 24 Nov 2015, 12:13:34 WIBopini

“Peger ni Keben”, Konsep Ketahanan Pangan Masyarakat Gayo

“Peger ni Keben”, Konsep Ketahanan Pangan Masyarakat Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Tanohgayo.com - Bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah), kopi arabika sudah merupakan tanaman “wajib”, tak sekedar tanaman budidaya tapi sudah menjadi budaya yang sudah tidak terpisahkan dari keseharian masyarakat disini. Lebih dari 80 persen perekonomian masyarakat di daerah berhawa sejuk ini bergantung kepada komoditi perkebunan yang belakangan sudah menjelma menjadi “primadona” di hampir semua belahan dunia. Popularitas kopi Gayo semakin “menjulang” seiring ditetapkannya Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2007 yang lalu, aroma dan rasa specialty kopi Gayo yang khas dan spesifik karena sistim budidayanya yang masih alami, membuat kopi ini sekarang menjadi kopi terbaik dan termahal di dunia, bahkan harga kopi Gayo berada di atas standar harga pusat perdagangan kopi dunia di New York. Tak heran kalo keudian buyer dari Amerika, Eropa dan Asia rela “indent” untuk memperoleh kuota pembelian kopi Gayo. Itulah sebabnya, kehidupan petani kopi di daerah ini semakin hari semakin terlihat sejahtera.

Melintasi perkampungan di Dataran Tinggi Gayo, kita akan disuguhi pemandangan yang nyaris mirip dari satu kampung dengan kampung lainnya. Hamparan kebun kopi dengan daun menghijau yang pada suatu waktu dihiasi dengan bunga kopi berwarna putih bak hamparan salju, dan di waktu lain berubah menjadi erselang dengan warna merah seiring dengan tibanya waktu panen kopi. Di saat itulah para petani kopi merasakan “kemerdekaan”nya sebagai petani, mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan, mulai dari rumah, pakaian, kendaraan sampai kebutuhan pangan mereka.

Terkait dengan masalah pangan, ada sesuatu yang dilematis di daerah ini, di satu sisi hasil dari budidaya kopi mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, tapi disisi lain ketersediaan bahan pangan pokok utama di daerah ini masih sangat bergantung pasokan dari daerah lain. Tidak masalah memang, ketika harga kopi stabil, para petani dapat dengan mudah mengakses pangan dengan mudah, karena daya beli mereka terhadap produk pangan cukup tinggi. Tapi kemudian akan timbul masalah, ketika harga kopi “anjlok” seperti yang terjadi pada tahun 2013 yang lalu, atau distribusi bahan pangan terganggu akibat instabilitas keamanan seperti yang terjadi pada tahun 2000an.

Dataran Tinggi Gayo yang memang dominan dengan lahan perkebunan, hanya memiliki lahan tanaman pangan, khususnya padi yang sangat terbatas. Lahan sawah yang ada di daerah ini belum bisa mencukupi kebutuhan pangan pokok berupa beras bagi masyarakat, karena selain terbatasnya lahan sawah, produktifitas padi di daerah ini juga masih relative rendah. Ini akibat pola tanam yang masih mengandalkan cara konvensional, penggunaan bibit non unggul dan keterbatasan jaringan irigasi, sehingga pertanaman padi di daerah ini masih mengandalkan sistim tadah hujan, dan hanya bisa menanam padi setahun sekali, kecuali di beberapa wilayah yang ketersediaan airnya mencukupi. Dari fakta ini, jelas ketersediaan pangan di daerah ini sudah menunjukkan “lampu kuning” yang perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

Itu baru cerita tentang pangan pokok yang berfungsi seagai sumber karbohidrat, belum lagi kalo bicara tentang kebutuhan pangan lainnya seperti protein, lemak dan vitamin. Untuk kebutuhan protein hewani seperti ayam, telur dan ikan, hampir 70 persen bergantung pasokan dari daerah lain, begitu juga dengan sumber lemak nabati seperti minyak goreng, kacang-kacangan seperti kedele dan kacang tanah juga masih sangat bergantung produk dari luar daerah. Yang agak lumayan adalah produk pangan sumber vitamin, daerah ini memiliki produksi beberapa jenis buah-buahan dan sayur-sayuran yang bisa menjadi sumber vitamin, ada Jeruk, Nenas, Markisa, Alpukad dan jenis uah lainnya, banyak jenis sayuran seperti kol, wortel, tomat, cabe, kentang dan sebagainya dihasilkan di daerah ini.

Kembali kepada pangan utama penghasil karbohidrat , sejatinya Dataran Tinggi Gayo punya potensi pangan yang cukup banyak selain beras. Ubi kayu (singkong), ubi jalar, talas, kentang, jagung, ganyong dan lain-lainnya merupakan tanaman sumber karbohidrat yang dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah ini. Namun karena tradisi atau kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa mengkonsumsi beras menjadi asupan pangan utama, maka sumber karbohidrat lain seperti “dipandang sebelah mata”. Padahal  dengan sedikit kreatifitas, bahan pangan pengganti beras tersebut bisa disajikan sebagai bahan pangan pokok untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Dan jika konsumsi beras bisa sedikit dikurangi, maka pengeluaran masyarakat untuk membeli beras juga bisa ditekan, itu artinya masyarakat bisa punya “saving” lebih untuk pemenuhan kebutuhan lainnya seperti membiayai pendidikan anak.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya, ketika beberapa waktu yang lalu diminta untuk mendampingi seorang pejabat daerah berkeliling untuk melihat potensi pangan di kabupaten Aceh Tengah. Ada sebuah desa yang berada di punggung perbukitan kecil, desa itu bernama Arul Gele yang berada di wilayah kecamatan Silih Nara. Tak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Aceh Tengah, desa itu juga didominasi dengan tanaman kopi arabika. Tapi yang menjadi berbeda adalah di desa ini, hampir semua warga juga menanam beberapa jenis tanaman pangan seperti ubi kayu, ubi rambat, labu tanah, pisang dan talas di sela-sela tanaman kopi mereka. Tak ada yang aneh memang dengan tanaman-tanaman itu, tapi ketika kita kaitkan dengan ketahanan pangan masyarakat, ada sebuah kearifan lokal tersebunyi disana.

Seorang warga bernama Sukirno yang sempat saya jumpai mengungkapkan, bahwa tujuan dia menanam beberapa jenis tanaman pangan disela-sela tanaman kopinya, tidak lain adalah untuk cadangan pangan, jika sewaktu-waktu terjadi kelangkaan pangan utama,

“Memang dengan hasil kopi, kami bisa beli beras, tapi kalo sewaktu-waktu beras nggak ada karena pengangkutannya terganggu akibat bencana alam atau konflik seperti beberapa tahun lalu, kami tidak khawatir, karena kami toh masih bisa makan ubi, pisang atau jagung sebagai pengganti beras, ya memang itu jarang terjadi, tapi mana tau, kita kan tidak bisa membaca apa yang kan terjadi besok-besok, desa kami ini kan nggak punya lahan sawah, jadi kalo beras putus terus mau makan apa kalo nggak nanam ubi-ubian seperti ini” ungkapnya lugu, tapi sangat masuk akal. Meski hanya tersirat, tapi apa yang di ungkapkan oleh warga kampung Arul Gele itu, sejatinya adalah manifestasi dari konsep ketahanan pangan yang merupakan warisan dari nenek moyang kita di daerah Gayo, yaitu “Peger ni Keben” atau pagar lumbung pangan, istilah sederhana yang mengandung makna yang luar biasa. Sebelum orang mengenal konsep ketahanan pangan baik menurut definisi FAO (Food and Agricultural Organisation) maupun menurut Kementerian Pertanian, ternyata sudak sejak dahulu, nenek moyang kita sudah mengenal konsep ketahanan pangan melalui tradisi mereka. Peger ni keben yang dimaksud, adalah menanam berbagai tanaman pangan alternative seperti  gadung (ubi kayu), kepile (ubi jalar), keladi (talas), petukel (labu tanah) dan lain-lainya di pekarangan atau lahan yang tidak terpakai. Fungsi dari peger ni keben ini tidak lain adalah sebagai cadangan pangan ketika karena sesuatu dan lain hal terjadi paceklik atau kerawanan pangan, dimana bahan pangan pokok yaitu beras langka atau ketersediaannya terbatas.

Memang di sepanjang jalan yang kami lewati dan beberapa kebun dan pekarangan warga di desa ini, hampir semuanya menanam berbagai tanaman pangan cadangan di sela-sela kebun kopi mereka. Tidak semuanya seperti Sukirno yang menanam ubi sebagai cadangan pangan, ada juga yang menanam ubi dan yang lainnya itu untuk menambah penghasilan mereka disaat kopi mereka belum masak. Seperti yang di ungkapkan oleh seorang perempuan bernama Sri,

“Wah banyak untungnya lho pak, sekarang ini harga ubi cukup baik, bisa sampe dua ribu per kilo, lagian kami nggak payah membawanya ke pasar, sudah ada yang datang membeli kesini” tutur Sri bersemangat “Kan bisa membantu sewaktu kopi masih hijau, nyabut beberapa batang ubi saja sudah cukup untuk kebutuhan beberapa hari” sambungnya. Meski sering menjual hasil ubinya untuk menutupi kebutuhan hariannya, tapi Sri juga sering mengolah ubi menjadi makanan seperti tiwul dan getuk, memang belum jadi makanan pengganti beras, tapi setidaknya sudah ada upaya untuk diversivikasi pangan disana.

“Memang kalo untuk hari-hari ya kami tetap makan nasi sebagai makanan utama, tapi sekali-sekali kami juga mengganti sarapan kami dengan hasil dari ubi, biar anak-anak juga tau, bukan cuma nasi yang bisa bikin kenyang” ungkap perempuan desa ini, meski terkesan lugu tapi apa yang diungkapkannya sudah mencerminkan bahwa mereka menanam tanam sela itu tujuannya memang sebagai cadangan pangan dan diversivikasi pangan.

Tak ada slogan muluk-muluk tentang diversivikasi pangan, tak pernah ada kampanye memasyarakatkan pangan lokal, tak ada sosialisai tentang ketahanan pangan disana, tapi mereka tetap menanam dan menanam. Mereka tak paham tentang konsep ketahanan pangan, tapi mereka tau bahwa mereka harus punya cadangan pangan, mereka tak mengerti tentang diversivkasi pangan seperti yang sering di teriakkan para pakar di media, tapi mereka tau bagaimana mengolah pangan alternatif itu. Sebuah kesadaran akan ketahanan pangan yang berawal dari konsep kesederhanaan dan keluguan warga desa Arul Gele. Meski mereka tidak paham dengan berbagai konsep yang mungkin sering hanya teoritis, tapi mereka sudah mengimplementasikannya di lapangan sejak lama, tanpa kampanye, tanpa publikasi, ternyata desa yang warganya tergolong cukup sejahtera ini mampu menyiapkan cadangan pangan di sela-sela tanaman kopi mereka, sebuah kearifan lokal yang bisa ditiru oleh warga di desa-desa lainnya.

Menyikapi kondisi ketahanan pangan di daerah kita yang masih sangat bergantung kepada daerah lain, agaknya konsep “peger ni keben” ini perlu dimasyarakatkan kembali melalui geraka-gearkan riil di bidang ketahanan pangan. Lingkup peger ni keben juga perlu diper luas, tidak hanya terbatas pada tanaman pangan alternative saja, tapi juga bisa dipadukan dengantanaman buah-buahan,  peternakan ayam kampung atau itik serta kolam ikan di lahan pekarangan yang berfungsi sebagai cadangan vitamin dan protein hewani. Selain sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan, konsep peger ni keben ini juga akan bisa meningkatkan kesejahteraan dan tingkat kesehatan masyarakat, karena kebutuhan pangan berupa karbohdrat, protein dan vitamin dapat terpenuhi dari lahan pekarangan mereka, tanpa harus mengeluarkan biaya.

 

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook