Akhir Tragis Perjalanan Seorang Pengidap HIV/AIDS Asal Sumut Di Tanoh Gayo

By tanohgayonews 09 Sep 2016, 10:17:42 WIB

Akhir Tragis Perjalanan Seorang Pengidap HIV/AIDS Asal Sumut Di Tanoh Gayo

Oleh: Mark Fauzi

TANOHGAYO.COM - Sejak hari Selasa, 6 September 2016 sejumlah pengguna jejaring sosial Facebook di Dataran Tinggi Gayo mulai membuat postingan seorang pasien yang sedang tergeletak di salah satu ruangan pada Rumah Sakit Umum (RSU) Datu Beru Takengon.

Postingan tersebut juga disertai dengan foto-foto yang menampilkan sang pasien sedang terkapar tak berdaya. Kritis.

Berdasarkan sejumlah postingan, pasien tersebut diketahui bernama Maya alias Sardin alias Marwan, usia diduga sekitar 30 tahun, dan berasal dari Nias, Sumatera Utara. Sehari-hari Maya yang seorang waria itu bekerja di sebuah salon kecantikan di kota Takengon.

Itulah secuil informasi tentang Maya. Selebihnya serba mengambang, bahkan gelap. Tidak diketahui siapa nama Maya yang sebenarnya, karena yang bersangkutan tidak memiliki kartu identitas, baik KTP, SIM, atau identitas lainnya.

Lebih menyedihkan lagi, Maya diketahui tidak punya kerabat atau keluarga di kota Takengon. Bahkan para netizen pun kelabakan untuk mencari keluarga Maya yang berdomisili di Nias, meskipun kondisi terakhirnya telah dibagikan ulang sebanyak ratusan kali.

Pada hari Kamis, 8 September 2016 berita kematian Maya muncul di sejumlah media online, baik lokal maupun nasional.

Berdasarkan berita tersebut diketahui Maya menghembuskan nafas terakhir karena mengidap HIV (sejumlah media menuliskan AIDS, tanpa didahului HIV).

Reaksi dari netizen pun beragam menyikapi kematian Maya akibat virus yang hingga kini belum juga ditemukan obatnya.

"Hanya Allah yang maha tau..di kota tercinta ini sudah ada AIDS." tulis seorang netizen.

"Sempat beredar di fb, kasihan sekali nggak punya keluarga." timpal seorang netizen lainnya.

Dan beragam komentar lain yang menyayangkan kepergian Maya. Hingga tulisan ini dibuat postingan tentang kematian pengidap HIV diperkirakan akan terus bertambah.

Tragis, Tragis, Tragis
Karena tidak ada yang menjemput jenazah Maya alias Marwan, pihak RSU Datu Beru dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Aceh Tengah terpaksa turun tangan mengurusi hingga menguburkan almarhum.

Tidak ada kerabat, keluarga, apalagi sahabat yang yang datang membawa jenazah. Pihak rumah sakit juga kebingungan kemana jenazah Maya harus dipulangkan.

Mungkin sudah ditakdirkan Maya yang sejatinya seorang pria harus menjalani hidup bak seorang perempuan.

Juga barangkali sudah digariskan kalau waria berkulit putih asal Nias tersebut harus mengakhiri hidup bersama virus mematikan yang membuat jenazahnya ditakuti karena kebanyakan masyarakat khawatir akan ketularan virus juga.

Jadilah seorang Marwan menghembuskan nafas terakhir dengan tragis. Tidak ada yang melayat, tidak ada orang yang bersedia mengaku sebagai keluarga. Bahkan tidak satupun temannya yang berempati, apalagi mengakui pernah mengenalnya.

Stigma dan Diskriminasi
Pengetahuan masyarakat yang rendah tentang HIV, juga AIDS, membuat Maya mengalami stigma, baik saat mendapat perawatan intensif hingga dirinya telah dinyatakan meninggal dunia.

Masyarakat kebanyakan mendapatkan informasi yang tidak benar bahkan cenderung menyesatkan tentang human immunodeficiency virus (HIV) maupun acquired immune deficiency syndrome (AIDS).

HIV sendiri merupakan virus yang hanya dapat ditularkan lewat hubungan seksual, jarum suntik, transfusi darah, serta penularan dari ibu ke anak (sewaktu mengandung).

Virus HIV tidak akan bisa hidup di tempat terbuka dan hanya bercokol dalam darah dengan cara menggerogoti sel darah putih.

Dengan demikian penggunaan handuk, sikat gigi maupun perangkat makan dan minum tidak akan menyebabkan penularan HIV.

Akan tetapi, sekali lagi, persepsi yang keliru membuat jenazah seorang pengidap HIV begitu ditakuti.  Tidak mengherankan jika akhirnya mayat Sardin alias Maya yang terbujur kaku tidak ada yang bersedia mengurusi, apalagi memandikan dan menguburkan.

Dalam kebanyakan kasus, keluarga juga enggan mengakui pengidap HIV sebagai bagian dari mereka. Bagi mereka HIV adalah penyakit kutukan yang memalukan. Padahal penularannya bisa jadi akibat transfusi darah, bukan akibat perbuatan yang dilarang agama.

Akibatnya semasa hidup para penderita seringkali mengalami diskriminasi, baik oleh masyarakat maupun keluarga.

Seperti kasus Maya, tidak mengherankan jika pada akhirnya para pengidap HIV dan penderita AIDS berkumpul, membentuk komunitas sendiri, biasanya tertutup, agar mereka bebas berekspresi tanpa stigma maupun diskriminasi.

Pelajaran Bagi Yang Masih Hidup
Maya yang kelahiran Nias Sumatera Utara telah meregang nyawa di Tanoh Gayo bersama virus yang paling ditakuti.

Namun cerita tentang Maya, juga HIV dan AIDS belum berakhir mengingat Maya selama beberapa waktu pernah tinggal di kota dingin Takengon.

Penulis sedikit penasaran. Berapa orang yang pernah "menyicipi", tegasnya melakukan hubungan seks dengan Maya semasa hidupnya?

Kalau ada, dan hampir dipastikan memang ada,  berapa orang yang tertular virus HIV?

Ingat, penggunaan kondom sama sekali tidak bisa menjamin seseorang aman dari HIV, karena ukuran virus HIV jauh lebih kecil ketimbang pori-pori kondom, bahkan jauh lebih kecil ketimbang spirochete yang mengakibatkan aneka jenis penyakit kelamin menular (Sexually transmitted disease), mulai dari sifilis hingga gonorrhea.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook