In Memoriam Abangda Kami Ikhwanussufa : “Semangat Politikus Muda Gayo”

By tanohgayo.com 21 Agu 2017, 10:53:24 WIBsosok

In Memoriam Abangda Kami Ikhwanussufa : “Semangat Politikus Muda Gayo”

tanohgayo.com-Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan pekerjaan yang masih didambakan sebagian besar masyarakat. Sulitnya mendapat lapangan pekerjaan, sehingga PNS menjadi incaran, khususnya bagi mereka yang menyandang status sarjana. Alasannya, status PNS akan memberikan jaminan hidup, termasuk kelak di hari tua.

Namun tidak demikian bagi Ikwanussufa. Pria yang telah berusia kepala empat ini justru keluar dari PNS, hanya untuk bisa berkarier di dunia politik. Politikus muda Gayo ini, sebelum terjun ke dunia politik, menjadi PNS di Departemen Agama, sejak tahun 2003 hingga 2008. Namun, tekadnya yang kuat untuk mengarungi dunia politik, akhirnya menanggalkan seragam PNS-nya.

Keyakinan kuat untuk terjun di dunia politik, akhirnya bukan hanya sekedar mimpi. Berbekal pengalaman karena pernah menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Aceh dan Komite Pemilihan Independen (KIP) Aceh, mantan aktifis ini akhirnya jebol menjadi wakil rakyat. Bahkan ia berhasil duduk dua periode di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah. Pada periode kedua menjadi wakil rakyat, Ikhwanussufa, maju dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Kader partai berlambang banteng ini, salah satu politikus muda Gayo yang pandangan politiknya menjadi pertimbangan para politikus lain di Dataran Tinggi Gayo (DTG) serta memiliki kedekatan dengan para tokoh politik Nasional.

Ia merupakan putra sulung dari pasangan M Thaib AW dan Zuryati. Sejak muda telah malang melintang di banyak organisasi. Organisasi mahasiswa, kemasyarakatan, olahraga dan sosial telah banyak digelutinya. Sejak di bangku kuliah, aktif sebagai tokoh mahasiswa dan pernah menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Ar Raniry. Bukan hanya itu, sederet posisi strategis pernah dipegang oleh Ikhwanussufa. Diantaranya, pernah menjabat Sekretaris Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesa (GPMI) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 2003-2006. Pernah juga menjabat Wakil Sekretaris KNPI NAD periode 2005-2008, Ketum Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 1999-2000. Selanjutnya, sebagai Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tengah. Ketum Persatuan Mahasiswa Takengen (Permata) IAIN Ar Raniry Banda Aceh 1995-1996. Dan dalam bidang olahraga pernah menjabat Ketum Tarung Derajat Kabupaten Aceh Tengah.

Meski disibukkan dengan urusan politik, Ikhwanussufa tak lupa untuk terus belajar. Buktinya, sarjana Fakultas Tarbiyah UIN Ar Raniry Jurusan Fisika/ Tadris Ilmu Alam (TIA) Tahun 1999 ini, sedang melanjutkan pendidikan pascasarjana Fisipol, Jurusan Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU). Saat ini, ia juga tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh, konsentrasi Pendidikan Islam dengan tesis dengan judul Konsep Pendidikan Ikhwan assafa dan Ikhwanul Muslimin, Studi Komperatif terhadap Konsep Spritual Quotien.

Jauh sebelum menjadi mahasiswa pascasarjana, Ikhwan mengawali pendidikan sekolah tingkat dasar di MIN 1 Takengen, lulus tahun 1986. Melanjutkan pendidikan di MTsN 1 Takengen, tamat tahun 1989 dan menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Takengen, lulus tahun 1992.

Siapa sangka, bila Ikhwanussufa, juga pernah menjadi seorang pengajar di sejumlah sekolah serta menjadi dosen. Berikut, pengalamannya menjadi tenaga pengajar di sejumlah sekolah, diantaranya menjadi guru di MTsN Tungkop, SMK Neuhen Aceh Besar, SLTP Cut Mutia dan MTsN Simpang Balik. Usai mendapatkan gelar sarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Ikhwanussufa menjadi dosen pada Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Banda Aceh, tahun 2001 hingga 2004, bahkan menjadi dosen luar biasa pada IAIN Ar Raniry tahun 2000 hingga 2004.

Ikhawanussufa, sosok yang dikenal tegar dalam menghadapi beragam masalah selama menjadi aktivis dan karier. Namun ia sempat goyah ketika keluarga yang dicintainya direnggut oleh musibah bencana tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Dari ratusan ribu nyawa melayang ketika ombak besar menerjang Koeta Radja sebelas tahun lalu, lima diantaranya merupakan orang yang sangat dicintai oleh Ikhwanussufa. Ia sangat terpukul ketika dua putra putri dan istri tercinta serta dua saudara kandungnya dipanggil yang maha kuasa dalam bencana besar itu. Ikwanussufa sempat down selama beberapa bulan karena larut dalam duka yang dalam. Namun perlahan ia kembali bangkit dari keterpurukan itu.
 
Bangkit dari kesedihan mendalam, satu persatu tugas dan tangungjawabnya atas pekerjaan diselesaikan dengan baik. Tepat pada bulan Februari Tahun 2006, Ikhwanussufa mempersunting dara cantik berdarah Aceh, Cut Rafika dan kini telah dikaruniai dua orang putra Muhammad Raffa El-Khatami dan Muhammad Muzammil Al-Tasyrify.

Beberapa catatan keberhasilan Ikhwanussufa, diantaranya mampu menyelenggarakan pemilihan umum ketika menjabat sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Aceh tahun 2004 dan Komite Independen Pemilihanan (KIP) Aceh hingga tahun 2009. Ia merupakan salah satu orang yang sukses mengkoordinir enam lembaga pemantau asing di Aceh. Unfreal (Thailand), Malaysia Election, Ausaid (Australia), UNI Erofa (Spanyol, Inggris, Swedia, Jerman, Norwegia, Denmark), USAID, Amerika (Konsul Amerika di Medan), merupakan lembaga asing yang memantau pilkada kala itu.

Pernah sukses menjadi Kepala Satker Agama Sosial Budaya (Badan Rehabilitasi Rekonstruksi) BRR NAD–Nias Regional III 2008. Manager Agama Budaya Pendidikan Kesehatan dan Gender BRR NAD-Nias regional III 2007-2009. BRR memberikan deadline untuk infrastruktur, pemberdayaan ekonomi dan sosial budaya, harus selesai pada bulan November 2008, di bawah kepemimpinan Ikhwan, berhasil menjadi Kasatker yang paling cepat menyelesaikan kegiatan di tujuh kabupaten/kota (Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Kota Langsa). Pada bulan Juli 2008, empat bulan sebelum batas waktu, telah merampungkan seluruh kegiatan fisik maupun bantuan perekonomian. Salah satunya kontribusi lain, terhadap pemuda di Kota Dingin Takengen, dengan memberi pembangunan gedung pemuda dan Kantor Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tengah.

Ikhwanussufa, pemuda yang berpikir cemerlang itu masuk dunia politik murni. Ia bergabung dengan Partai Demokrat dan menjadi calon anggota legislatif pada pemilu tahun 2009. Cita-citanya tercapai dengan duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah, periode tahun 2010-2014. Ia dipercaya duduk di Komisi A.

Sosoknya semakin familier di kancah politik lokal ketika adanya gunjang ganjing pemilihan komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Tengah periode 2013-2018. Jelang pemilu legislatif 2014, terjadi perpecahan di tubuh DPRK, satu sama lain saling sikut hingga banyak di-PAW (pergantian antar waktu) karena tidak lulusnya partai politik sebagai peserta pemilu, hingga ada yang berpindah gerbong. Ikhwanussufa pun masuk daftar PAW karena mendaftar dari PDI-P meninggalkan Partai Demokrat. Namun, bukan Ikhwanusufa namanya bila tidak lolos dari proses PAW. Dengan pengalaman politik dan pernah menjadi penyelenggara pemilu, hingga berakhir masa jabatannya, Ikhwan mulus menyelesaikan periode DPRK tahun 2010-2014.

Periode pertama menjadi anggota DPRK Aceh Tengah, Ikhwanussufa sudah memperjuangkan seluruh aspirasi konstituennya. Tapi diakuinya, dana yang bisa dialokasikan terhadap daerah pemilihannya sangat kecil. Dengan anggaran sebesar Rp 2 miliar, dibagi 70 kampung di daerah pemilihan, berarti hanya 70 persen saja mendapat perhatian melalui program-program pemberdayaan sesuai aspirasi masyarakat yang bisa terserap. “Kita perjuangkan aspirasi masyarakat, terutama bidang pemberdayaan peternakan dan pertanian,” kata Ikhwanussufa.
    
Pemilihan umum legislatif tahun 2014, Ikhwanussufa dengan gerbong baru Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), kembali maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan (dapil) Aceh Tengah Satu (Kecamatan Kebayakan, Lut Tawar dan Bintang). Meski berpindah dapil, Ikhwanussufa masih berhasil memperoleh kursi anggota dewan yang terhormat untuk kedua kalinya.

Untuk dapil satu, Ikhwanussufa berkeinginan memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk membawa berbagai program pembangunan setidaknya ke tiga kecamatan. Saat menjabat anggota dewan periode sebelumnya, ia menilai ada ketimpangan program pembangunan terhadap dapil satu. Untuk itu, Iwan sapaan akrabnya berkeinginan bisa berbuat lebih banyak agar tidak ada lagi perbedaan dari pemerintah terhadap dapil satu. Atas keinginan dan cita-cita tersebut, Ikhwan tetap berharap dukungan masyarakat demi amanah yang telah dititipkan dipundaknya.    
    


Nama Lengkap            : Ikhwanussufa
Tempat tanggal lahir    : Aceh Tengah, 18 Desember 1974
Nama Istri                   : Cut Rafika
Anak                          : Muhammad Raffa El-Khatami
                                   Muhammad Muzammil Al-Tasyrify


Penulis : Wen Y Rahman

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook