Ini Saran dari Fotografer Agar Foto Pre Wedding Tidak Mengancam Nyawa

By tanohgayo.com 18 Mar 2016, 16:08:42 WIBSerba Serbi

Ini Saran dari Fotografer Agar Foto Pre Wedding Tidak Mengancam Nyawa

foto ist

 

Jakarta, tanohgayo.com- Sepasang calon pengantin di Aceh meninggal tragis saat melakukan foto pre wedding. Mereka terjatuh saat hendak membuat foto di kawasan air terjun. Membuat foto pre wedding di kawasan yang ekstrem memang menggoda untuk hasil foto tidak biasa, namun pasangan perlu berhati-hati dalam melakukannya. Bagaimana agar foto pre wedding yang dilakukan dengan gaya ekstrem tidak mengancam nyawa?

Fotografer pre wedding ternama Sigit Prasetio mengatakan keinginan membuat foto pre wedding unik biasanya tidak datang dari calon pengantin. Justru dari pihak fotografer lah yang memiliki ide-ide menarik dalam hal pembuatan foto tersebut.

"Umumnya jarang banget yang minta seperti itu. Fotografer yang punya ide-ide kreatif. Klien juga tidak akan melakukan sesuatu tanpa arahan fotografernya," ujar Sigit yang mendirikan perusahaan jasa foto pre wedding The Uppermost dan website The Uppermost bersama empat rekannya.

Sebagai fotografer pre wedding, Sigit pun pernah menyarankan pada kliennya untuk membuat foto pre wedding yang ekstrem. Namun tentu sebelum meminta pasangan calon pengantin melakukan pose tertentu yang berisiko, ada hal-hal yang dipertimbangkannya.

"Minimal kita tahu kondisinya seperti apa, kemungkinan-kemungkinannya seperti apa. Sebelum kita meminta pasangan buat melakukan apa yang kita minta, kita juga mengetes dulu kondisinya. Kita coba dulu sendiri," ucap pria yang terpilih sebagai Nikon Indonesia Official Photographer Partner itu.

Sigit mencontohkan, ketika dia meminta pasangan berfoto di atas pohon, dia akan mencoba dulu untuk menaiki pohon tersebut. Dia mengetes seberapa kuat ranting pohon yang akan diduduki misalnya. Atau ketika pasangan harus berfoto di ujung tebing, dia juga akan mencari tahu dulu keamanan dari lokasi foto.

"Apapun itu yang harus dipikirkan adalah safety. Memang semakin ekstrem foto itu diciptakan akan menghasilkan foto yang beda dari yang sudah dikerjakan orang lain. Tapi kita tidak bisa mengesampingkan keamanan. Kita (fototgrafer-red) juga tidak bisa mendorong mereka (pasangan) untuk harus melakukan apa yang kita mau. Kalau mereka tidak mau yang jangan diteruskan," urai pengelola akun Instagram @theuppermostphotography dan @sigpras itu.

Pria yang pernah masuk dalam jajaran World Top 30 Wedding Photographers pada 2015 itu juga menjelaskan, seorang fotografer harus melihat apakah memang aksi ekstrem yang dilakukan sepadan dengan hasilnya atau tidak. "Worth it nggak untuk dikerjakan, kalau tidak nggak usah dipaksakan. Misalnya hari itu hujan, ya jangan diteruskan. Atau jalanannya terlalu licin," jelasnya.

Menurut Sigit, sisi keamanan juga tidak hanya dari klien saja yang harus diperhatikan. Fotografer itu sendiri pun perlu memikirkan keamanan dirinya ketika melakukan pemotretan ekstrem. Jangan sampai seorang fotografer melakukan hal yang justru membahayakan nyawannya untuk sesuatu yang dipaksakan.

Sigit sendiri sudah beberapa kali melakukan foto pre wedding ekstrem. Salah satu yang paling berkesan adalah di Nairobi, Kenya. Pemotretan dilakukannya di lokasi syuting film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie. "Tempatnya lumayan licin, kita juga harus memanjat untuk sampai ke tempat yang cukup bagus view-nya," ceritanya.

Dalam membuat foto pre wedding yang ekstrem, Sigit mengungkapkan, sebenarnya tak melulu harus dengan kondisi yang berisiko. Teknik pengambilan gambar bisa menjadi siasat agar hasil foto terlihat ekstrem, meskipun sebenarnya pengambilan gambarnya tidak dilakukan dengan ekstrem.

"Misalnya foto yang belakangnya ombak, nggak harus dilakukan dengan benar-benar dekat ombak, bisa visual dari kiri sehingga tetap terlihat seperti terkena ombak. Dengan teknik fotografi, nggak perlu sampai terjadi hal-hal konyol," tutur Sigit yang sudah menjajal profesi fotografer sejak 2005.

sumber: detik.com

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook