Kepergian Makhluk Yang Terbuang: Sebuah Catatan Ringan

By tanohgayonews 10 Sep 2016, 09:15:45 WIBsosok

Kepergian Makhluk Yang Terbuang: Sebuah Catatan Ringan

Oleh: Mark Fauzi


TANOHGAYO.COM - Kematian Maya alias Sardin alias Marwan (30) di Rumah Sakit Umum (RSU) Datu Beru Takengon pada hari Kamis, 8 September 2016 kemarin mendapat perhatian lumayan besar dari sejumlah netizen asal Dataran Tinggi Gayo.

Besarnya perhatian netizen di tengah hangatnya suhu politik jelang Pilkada 2017 tidak lain karena kematian waria kelahiran Nias, Sumatera Utara itu dikaitkan dengan virus yang hingga kini belum juga ditemukan penangkalnya, human immunodeficiency virus (HIV).

Boleh dibilang, perjalanan Maya yang sehari-hari bekerja di sebuah salon kecantikan di kota Takengon itu berakhir tragis.

Tidak ada keluarga atau teman yang menjenguk jenazahnya, apalagi mengurus pemandian hingga menguburkan. Pihak rumah sakit juga kebingungan karena pria berkulit kuning langsat itu tidak mengantongi identitas apapun.

Alhasil, pihak rumah sakit bekerja sama dengan Dinsosnakertrans setempat terpaksa mengambil alih pengurusan jenazah.

Konon Maya akhirnya dikebumikan di TPU Reje Uyem Kebayakan setelah pihak rumah sakit memastikan tidak seorang pun warga yang bersedia menampung jenazah waria malang itu.

Tanggapan netizen pun beragam. Kebanyakan komentar berisi empati dan belas kasihan.

"Hanya Allah yang maha tau..di kota tercinta ini sudah ada AIDS." tulis seorang netizen.

"Sempat beredar di fb, kasihan sekali nggak punya keluarga." timpal seorang netizen lainnya.

Dan beragam komentar lain yang menyayangkan kepergian Maya. Juga terlihat sejumlah postingan disertai foto terakhir sesaat sebelum Maya menghembuskan nafas terakhir.

Di sejumlah media online sempat disebutkan kalau Maya alias Mardin diduga mengidap HIV/AIDS stadium akhir. Dugaan tersebut telah dikonfirmasi validitasnya oleh pihak rumah sakit pada hari itu juga, dimana Maya dinyatakan positif mengidap HIV.

Kepastian tersebut diperoleh setelah sampel darah maya diambil dan dilakukan serangkaian pengujian oleh petugas di laboratorium.
Pendek kata, virus mematikan HIV telah menyebabkan pria yang pernah tinggal di Banda Aceh itu terpapar AIDS (acquired immune deficiency syndrome), sebuah kondisi dimana seseorang telah kehilangan kekebalan tubuh secara gradual.

HIV/AIDS itu juga yang memaksa kehidupan Maya berakhir dengan status makhluk terbuang, makhluk yang jenazahnya tidak ada yang menginginkan, bahkan sedapat mungkin harus dihindari karena dikhawatirkan akan menularkan virus kepada orang lain.

Sebuah Catatan
Hanya ada sebuah catatan yang terbilang ringan setelah Maya berpulang: pengidap HIV/AIDS ada di sekitar kita, di seputaran kota dingin Takengon yang terkenal dengan hawanya yang sejuk.

Pun demikian, sebuah catatan ringan tersebut akan melahirkan banyak pertanyaan yang juga ringan, namun untuk menjawabnya terasa sangat berat dan bisa menyita banyak energi.
Pertanyaan pertama, berapa jumlah penderita HIV/AIDS di kota Takengon?

Berdasarkan sumber yang layak dipercaya oleh pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah, saat ini tercatat ada dua pengidap HIV+ di daerah penghasil kopi Arabika tersebut, dan keduanya berada di bawah pengawasan mereka.

Besar kemungkinan keduanya mendapatkan terapi dan perlakuan yang memadai, mulai dari bimbingan dan konseling hingga penyediaan anti-retroviral (ARV) secara gratis seumur hidup.

Namun perlu dicatat bahwa dua orang yang identitasnya disembunyikan tersebut adalah penderita yang telah melaporkan diri secara sukarela guna mendapatkan pelayanan optimal.

Bagaimana dengan pengidap HIV+ yang enggan melaporkan diri dengan satu atau beberapa alasan?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan pelaku seks menyimpang yang tidak menyadari kalau dirinya telah terjangkit virus monster tersebut?

Dalam situasi terburuk, para pelaku seks menyimpang (LGBT) bahkan enggan diambil sampel darah mereka untuk dilakukan pengujian di laboratorium.

Secara logika penderita HIV/AIDS tidak mungkin hanya dua orang, mengingat kasus HIV di tanah air mirip fenomena gunung es. Yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil saja, selebihnya dibiarkan terpendam atau mengendap, menunggu bom waktu.

Dan mereka, dengan jumlah yang tidak diketahui, tetap melakukan aktifitas seksual seperti biasa, dengan berganti-ganti pasangan. Kejadian tersebut terus berlangsung tanpa ada seorang pun yang peduli tentang kondisi kesehatan mereka.

Perjalanan Masih Panjang
Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, terlebih dahulu diperlukan data yang akurat tentang penderita, baik kuantitatif maupun kualitatif.

Untuk mendapatkan jumlah penderita HIV+ di Aceh Tengah saja diperlukan berbagai macam langkah yang tidak ringan.

Persoalan utama bukan pada pendanaan, bukan juga pada keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki petugas kesehatan.

Masalah terbesar justru berasal dari mereka yang merupakan mata rantai langsung persebaran HIV, atau setidaknya mereka yang berpotensi tertular virus yang belum ada obatnya itu.

Secara psikologis mereka tidak siap menerima kenyataan apabila mereka divonis telah terinfeksi HIV. Mereka terdiri dari pekerja seks, kaum LGBT, dan pengguna narkotika suntik.

Mereka juga tidak siap kondisi psikologis mereka akan memburuk akibat stigma dan diskriminasi yang harus mereka terima.

Menyandang status sebagai penjaja seks atau pelaku LGBT saja sudah cukup bagi mereka untuk diperlukan secara diskriminatif dan terstigmatisasi oleh lingkungan sekitar. Hasil tes berupa HIV+ tentu membuat situasi semakin tidak menguntungkan.

Kondisi semacam ini memaksa mereka enggan untuk memeriksakan diri, baik mendatangi dokter, klinik kesehatan, rumah sakit ataupun laboratorium.

Dibutuhkan upaya khusus yang memungkinkan mereka bersedia melakukan general check-up, termasuk kemungkinan telah bersarangnya HIV dalam darah mereka.

Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS
Sebuah data tentang penularan dan penyebaran HIV pernah dipublikasikan dengan hasil yang cukup menyenangkan: Sekitar 40 persen pengidap HIV+ merupakan ibu rumah tangga.

Perlu diketahui, para IRT penyandang HIV/AIDS tersebut umumnya tidak pernah menggunakan narkoba dengan jarum suntik (penasun, singkatan dari pengguna narkotika suntik).

Mereka juga tidak pernah melakukan hubungan seks dengan pria lain. Pendek kata mereka adalah para istri yang setia kepada suami tercinta.

Lalu mengapa mereka sampai terpapar virus yang menakutkan tersebut?

Jawabnya tidak lain karena perilaku suami mereka yang gemar "jajan" di luar rumah. Para suami tersebut merupakan kumpulan pria hidung belang yang secara kontinyu menggunakan jasa PSK untuk memuaskan hasrat seksual mereka.

Dalam kebanyakan kasus, para suami yang tidak setia inilah yang membawa penyakit dan virus ke rumah masing-masing. Mustahil bagi seorang suami berterus terang kepada istri kalau ia telah melakukan pengkhianatan terbesar bagi kelangsungan rumah tangganya, apalagi praktek tersebut terjadi secara berulang.

Celakanya lagi, suami-suami yang sudah keranjingan gonta ganti pasangan itu enggan memeriksakan diri ke dokter atau klinik terdekat.

Merasa keadaan baik-baik saja, mereka umumnya tidak menyadari kalau HIV mulai bersarang di tubuh mereka, menggerogoti sel darah putih untuk selanjutnya menghancurkan kekebalan tubuhnya.

Bayi Juga Rentan Terhadap HIV
Berdasarkan reportase Liputan 6 Jakarta (25 April 2014) jumlah bayi yang lahir dengan HIV terus mengalami peningkatan, dengan mengutip data yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan RI.

"Data Kementerian Kesehatan mencatat, jumlah HIV/AIDS pada anak usia 0-4 tahun terus meningkat dari 2010 hingga 2013. Selain itu jumlah kasus infeksi ini juga meningkat pada anak usia 5-14 tahun,"

Terkait meningkatnya jumlah anak yang tertular HIV, reportase tersebut memuat:

"Bahkan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menilai, peningkatan ini diakibatkan oleh laki-laki yang melakukan seks beresiko sehingga menularkan penyakit ke istri dan anaknya."

Yayasan Spiritia, sebuah lembaga amal yang memberikan pelayanan bagi pengidap HIV/AIDS juga menampilkan sejumlah data dan fakta.

Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (69,1%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (17,2%), dan kelompok umur >= 50 tahun (5,5%).
Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.

Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (57%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (15%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (4%).

Penutup
Perjalanan hidup Mardin alias Maya, seorang waria asal Nias telah berakhir tragis. Maya berpulang menghadap Ilahi Rabbi dengan status sebagai makhluk terbuang.

Tanpa disaksikan oleh seorang kerabat pun Maya dikebumikan di sebuah pemakaman umum di pinggiran kota Takengon.

Bahkan andai saja ada sanak keluarganya yang mengetahui keberadaan dirinya, besar kemungkinan Maya tidak akan diakui sebagai bagian dari mereka karena sebagian besar masyarakat kita menganggap kematian akibat HIV/AIDS merupakan salah satu peristiwa paling memalukan.

Pelajaran bagi kita yang hingga detik ini masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar oleh Sang Maha Pencipta.

Setia kepada pasangan serta menjauhi narkotika merupakan garansi untuk terhindar dari penularan virus mematikan, virus yang sangat ditakuti karena sampai saat ini belum juga ditemukan penangkalnya, meski jutaan dolar dana telah dikucurkan untuk keperluan riset.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook