Mengembalikan Makna Didong Gayo

By tanohgayo.com 03 Jun 2014, 08:44:41 WIBopini

Mengembalikan Makna Didong Gayo

Sambil membawa-bawa kesenian tradisional Gayo sabagai budaya asli masyarakat di daerah berhawa dingin ini, bersi uwiten, bersipengkilen, terdengar selentingan dibeberapa kesempatan dalam budaya orang Gayo, Didong.
 
Setelah menyimak sya'ir demi sya'ir dari Didong lama, era 1980-an di mana didong belum terkontaminasi oleh syair-syair Jorok "saling maki" antara satu group dengan group lainnya, ternyata, selain sya'ir-sya'ir nasehat, Didong adalah canda (Bersene/Olol) menukil namun tidak menyinggung, saya juga kurang tau mencari kata yang tepat dalam Bahasa melayu menjelaskannya.
 
Di era mendiang Sali Gobal, Muhammad Lakiki, Ceh Sahaq, Abdul Rauf dan banyak lagi ceh-ceh (pengarang-pengarang) syai'r didong, kesenian ini sangat bermakna sebagai penyampaian pesan dalam semua hal di tengah masyarakat Gayo pada umumnya.
 
Di dalam Didong peristiwa dunia bisa diulas mulai dari konflik, ekonomi dan berbagai persoalan sosial. Betapa cerdas dan kritisnya ceh-ceh tersebut pada saat itu, di saat mass media belum segencar saat ini, namun mereka tetap tanggap dan terbarukan dengan informasi terkini.
 
Sekitar tahun 1980-an ke atas, Didong mulai “tercemar” dengan kata-kata kotor, saling caci dan memaki, membuat kerusakan pada citra Didong yang punya peranan sebagai media pencerahan yang bijak di tengah-tengah masyarakat Gayo. Dan celakanya, golongan muda saat ini tidak lagi menyukai didong seperti dimasa lalu,  karena dinilai kurang mengigit, terlalu halus sehingga tidak menarik dinikmati menurut mereka.
 
Namun kesimpulan saya, setelah mendengar beberapa karya ceh-ceh pada era tersebut, terbetik kebanggaan di dalam diri saya, betapa bangga menjadi bahagian dari Gayo melihat sekelilingku. Betapa beruntung lahir di sini, di mana setiap langkah kami adalah seni. Bagaimana tidak, mandipun urang Gayo berketibung (seni memainkan air, menjadikan sebuah ritmik tertentu, biasa dimainkan orang-orang dikala mandi di sungai atau tempat pemandian), tetap diselimuti nuansa adat religius namun kini terkikis masa.
 
Apapun Didong di masa lalu bukan seperti pendapat dangkal pengamat amatiran yang kurang baca tapi banyak bicara. Didong adalah kesenian yang santun penuh tatakrama, penuh persahabatan sebagai media da'wah dan nasehat di masa lalu.
 

Fauzi Ramadhan*
Pelaku seni tinggal di Pegasing
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook