Menguak Sisi Lain Poligami: Dari Bisnis Hingga Norma Adat

By tgadmin 17 Feb 2016, 12:08:06 WIBlifestyle

Menguak Sisi Lain Poligami: Dari Bisnis Hingga Norma Adat

Oleh: Mark Fauzi

TANOHGAYO.COM - Poligamy (berasal dari bahasa Yunani πολυγαμία, polygamia, "menikah dengan banyak pasangan") hingga saat ini masih menjadi topik kontroversial di tengah masyarakat, baik dalam percakapan langsung maupun perdebatan di jejaring sosial.

Baru-baru ini harian Serambi Indonesia (Senin, 15 Februari 2015) mengetengahkan headline tentang maraknya kasus perceraian di provinsi Aceh. Berdasarkan liputan surat kabar terbesar terbitan Banda Aceh tersebut, salah satu tingginya kasus perceraian di Aceh disebabkan oleh poligami.

Tak pelak, poligami menjadi salah satu sorotan. Bukan karena ingin menggugat hukum Islam yang memperbolehkan poligami, tetapi yang dipermasalahkan adalah niat dan motif pelaku poligami yang dinilai sering "menjual" sunnah sebagai upaya pembenaran dalam upaya memperbanyak istri.

Melalui akun jejaring sosial, seorang Facebooker bernama Firdaus Armawandi Syah (41) secara singkat tapi padat menguak aspek poligami dari segala sudut pandang.

"Poligami adalah upaya pemberantasan prostitusi dan seks bebas, yang penerapannya harus tepat sasaran, sesuai syarat dan rukunnya. Poligami boleh boleh saja asalkan di bawah pengawasan pemerintah. Dan poligami juga dapat dijadikan sebagai ajang penyaluran ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan agama.

Poligami juga dapat di jadikan sebagai persyarikatan yg tulus ikhlas yg juga dapat dikelola sebagai bisnis." tulis Armawandi di wall pribadinya pada hari Minggu, 14 Februari 2015, pukul 09.47 WIB.

Sampai berita ini dinaikkan status tersebut telah menuai setidaknya 150 likes dan puluhan komentar dari rekan-rekan Armawandi sesama pengguna media sosial.

Menarik untuk dicermati point terakhir, dimana pria yang akrab disapa Aman Diko tersebut mengatakan kalau poligami merupakan persyarikatan yang dapat dikelola sebagai bisnis.

Saat dikonfirmasi perihal klaim tersebut, pria asal Kemili yang kini menetap di Medan itu sama sekali tidak membantah. Bahkan ia memberi contoh bagaimana praktek poligami erat kaitannya dengan bisnis.

"Saya punya tema di Medan, pengusaha restoran dengan banyak cabang," ujarnya memulai percakapan di Takengon (Selasa, 16/2/16) saat menghadiri pernikahan sepupunya di desa Ratawali, Kute Panang Aceh Tengah.

"Teman saya itu punya 4 orang istri, dan setiap istri ditugaskan untuk mengelola setiap rumah makan di masing-masing cabang. Kan di sini aspek bisnis begitu kental terlihat," lanjut ayah 2 putra ini.

Didampingi istriya Atmaida (34) Armawandi juga menjelaskan di pulau Jawa sejak lama telah berlangsung praktek "mak comblang" bagi pria bersuami untuk mencari istri simpanan yang dinikahi secara siri.

"Disini poligami disalahgunakan. Niatnya saja nggak betul. Kalau mau poligami harus terbuka, harus diketahui dan mendapat persetujuan dari istri pertama, tidak boleh diam-diam," Armawandi melanjutnya.

Saat ditanya apakah pengusaha kopi itu berencana akan berpoligami, dengan lugas ia mengatakan tidak punya rencana.

"Sebagai orang Gayo saya masih punya rasa malu. Saya tidak akan berpoligami karena saya menikahi istri saya untuk membahagiankannya, bukan untuk membagi-bagi cinta. Kemanapun saya pergi selalu ingat pesan nenek moyang, ratib musara anguk nyawa musara peluk. Punya istri cukup satu, tidak perlu ditmabah walaupun saya seorang pebisnis." ucapnya mantap.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook