ICLEI Dorong Jurnalis Mewartakan Aksi Perubahan Iklim Lebih Inspiratif

424
Kampung-kampung berbasis pertanian di dekat danau Laut Tawar, Takengon bisa diusulkan menjadi kampung berketahanan iklim dan jadi model wilayah lain./Foto Agus RB

Jakarta, tanohgayo.com –  Yayasan ICLEI Indonesia dalam rangkaian kegiatan One Planet City Challenge (OPCC) menyelenggarakan Lokakarya Media dengan tajuk “Percepatan Pencapaian Target Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim”. Lokakarya ini dihadiri sebanyak lebih dari 50 peserta dari berbagai media di seluruh Indonesia secara daring dan luring di Jakarta, Selasa (7/12)

Kegiatan ini diselenggarakan mempertimbangkan peran media massa yang penting untuk memperbesar porsi dan cakupan pemberitaan dengan informasi yang benar dan tepat serta inspiratif baik yang bersumber dari pemerintah daerah, pakar, aktivis lingkungan dan masyarakat. Pemberitaan mengenai krisis iklim, perubahan lingkungan, terobosan yang inovatif, membangun kesadaran kolektif untuk melakukan tindakan dan informasi lain yang terkait perlu untuk disebarluaskan. Terutama upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah melalui pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim.

Ketahanan iklim 

Ari Mochamad selaku Country Manager ICLEI Indonesia membuka acara lokakarya ini. Disampaikan oleh Ari bahwa pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mempercepat pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC), yang merupakan komitmen setiap negara untuk mencapai masa depan rendah karbon dan berketahanan iklim.

“Oleh karena itu upaya pemerintah kota/kabupaten perlu didukung dengan pengumpulan data dan pembuatan profil iklim aksi daerah yang kuat, yang akan membantu pemangku kepentingan pada tingkat daerah untuk mendukung pemerintah nasional dalam akselerasi capaian NDC. Dalam hal ini ICLEI juga bekerjasama dengan mitra membantu pemerintah daerah untuk melaporkan data dan aksi iklimnya,” jelas Ari.

Pembicara pertama dalam lokakarya ini yaitu Ratnasari SH., M.Si, Kepala Seksi Inventarisasi GRK Sektor Energi dan IPPU dari Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verifikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan paparan tentang “Kebijakan dan Instrumen Pendukung dalam Pencapaian Target NDC”.

Hasil  COP 26 Glasgow

Ratnasari menjelaskan jika saat ini instrumen pendukung pencapaian NDC dibuat dengan sangat spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

“Dari hasil (COP 26) Glasgow kemarin, yang dibutuhkan adalah peran subnasional. Ini sangat penting karena sebagai motor penggerak dari isu perubahan iklim. Dukungan kebijakan daerah dan pendanaan sangat penting. Kami yang di (pemerintahan) nasional sangat mengharapkan adanya informasi, mulai mendengarkan dari pemerintah daerah, kira-kira kebutuhannya apa. Implementasi harus disesuaikan dengan kondisi kita, sehingga maksimal untuk mendukung penurunan gas rumah kaca di dunia,” jelas Ratnasari.

Pembicara kedua, Irfan Darliazi Yananto, S.E., MEREC, Fungsional Perencana Direktorat Lingkungan Hidup dari Kementerian PPN/Bappenas memaparkan tentang “Kebijakan dan Instrumen Pendukung dalam Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim pada Tingkat Nasional dan Daerah” secara daring.

Irfan menyampaikan tentang salah satu pendekatan yang telah dikaji yaitu ekonomi sirkular untuk pengendalian perubahan iklim yang sudah semakin nyata.

“Salah satu instrumennya yaitu ekonomi sirkular. Perlu mulai bergerak dari ekonomi yang sifatnya linier ke closed loop ekonomi sirkular, dimana akan terjadi proses melingkar, mulai dari memproses, desain/manufaktur, consumer goods, collection, recycling, dan kembali lagi ke proses,” kata Irfan.

Pembicara ketiga adalah Hendricus Andy Simarmata ST, M.Si, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencana (IAP) Indonesia yang memaparkan tentang “Perencanaan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Tingkat Pemerintah Daerah”.

Pada dasarnya, kata Andy, IAP mendorong pemaduan aksi iklim dalam prosedur dan siklus perencanaan pembangunan dengan mengembangkan sejumlah alat ukur dan perangkat penilaian. Dari sisi infrastruktur bangunan, efisiensi energi dan energi yang hijau melalui zoning regulation seperti low emission zone merupakan sebagian dari pendekatan yang bisa diterapkan.

Lokakarya ini juga mengundang media-media yang hadir untuk dapat mengeluarkan publikasi yang mendalam mengenai perubahan iklim. Diharapkan, para jurnalis dapat memberikan inspirasi dan edukasi kepada publik tentang perubahan iklim. Publikasi karya terbaik akan mendapatkan kesempatan mengikuti kunjungan media di kota dengan aksi iklim terbaik di Indonesia berdasarkan kriteria OPCC.

Jejaring 2500 pemda sedunia 

Aktif di lebih dari 125 negara, ICLEI bersama mitra kota mendorong kebijakan keberlanjutan dan aksi lokal untuk pembangunan yang rendah karbon, berbasis alam, adil, berketahanan dan sirkular. ICLEI-Local Governments for Sustainability adalah jaringan global lebih dari 2500 pemerintah lokal dan daerah yang berkomitmen untuk pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

ICLEI bekerja sama dengan pemerintah daerah dan tim ahli melalui pertukaran pengetahuan kemitraan dan pengembangan kapasitas untuk menciptakan perubahan sistemik untuk keberlanjutan perkotaan.(REL)