Home Aparatur Kirim 2,5 Ton ke Sumut, Pemkab Aceh Tengah Gaungkan Tembakau Gayo

Kirim 2,5 Ton ke Sumut, Pemkab Aceh Tengah Gaungkan Tembakau Gayo

27

Takengon, tanohgayo.com- Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang telah melakukan kerjasama pertanian tembakau dengan PT Mitra Tata Usaha Bersama, Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang membuahkan hasil dengan pengiriman perdana sebanyak 2.5 Ton tembakau kering.

Sebelumnya, Pemkab Aceh Tengah melakukan kunjungan kerja, Bulan September 2019 ke Kabupaten Karo, untuk melihat langsung lahan pertanian tembakau disana. Sebaliknya pihak perusahaan kemudian melihat langsung lahan pertanian dan mendata daerah-daerah yang cocok ditanami tembakau.

Dari beberapa pertemuan, kedua belah pihak sepakat menjalin kerjasama ditandai dengan penandatanganan MoU antara Pemkab Aceh Tengah dengan PT Mitra Tata Usaha Bersama. Penandatanganan kerjasama itu berlangsung di Oproom Setdakab Aceh Tengah. “Kita berharap dengan kerja sama ini nantinya tanaman tembakau dapat kita kembangkan di Aceh Tengah,” kata Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, Selasa (15/10/2019). Hadir dalam acara itu kelompok tani tembakau dari delapan kecamatan, perwakilan SKPK dan anggota DPR.

Shabela mengakui  selama ini petani di Aceh Tengah kurang berminat untuk mengembangkan tembakau, masyarakat lebih memilih tanaman kopi dan palawija, padahal pada tahun 70-an, Sudah banyak masyarakat sebagai petani tembakau yang sukses di dataran tinggi Gayo.

Dengan adanya dukungan pemkab Pemerintah Aceh Tengah, PT. Tata Usaha Bersama bermitra bidang tembakau dengan koperasi Gayo Mitra Jaya (GMJ) di Aceh Tengah, sehingga petani di Aceh Tengah kembali berminat untuk menanam tembakau.

Tembakau yang tumbuh di wilayah pegunungan Gayo dulunya pernah sangat diminati, sebelum petani di daerah ini tidak lagi menanamnya sebagai komoditas unggulan. Namun kini, tembakau gayo akan kembali dikembangkan.

“Kita manfaatkan lahan yang ada, terutama lahan persawahan yang hanya panen sekali dalam setahun. Pasca panen dapat digunakan untuk menanam tembakau, sehingga pendapatan petani dapat lebih meningkat,” kata Shabela.

Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar menyatakan sangat bangga bahwa komoditas pertanian di Kabupaten yang dipimpinnya sejak akhir Tahun 2017 kembali mampu menerobos pasar tingkat Nasional dan Internasional. “Kami yakin, Tembakau dari Gayo akan kembali bangkit seperti era tahun 80-an, dimana saat itu toke Tembakau sangat terkenal melebihi toke Kopi,” kata Shabela optimis.

Mewabahnya Virus Corona saat ini, Shabela menyatakan menanam Tembakau adalah salah satu alternatif bagi masyarakat sebab harga Kopi dan hortikultura yang terpuruk karena permintaan kurang.

“Apalagi saat ini kita sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan rokok, walaupun yang diminta adalah daun Tembakau, tapi Tembakau Rajang maupun Tembakau Hijau tetap ramai peminatnya,” jelasnya.

Sebagai salah satu sentra pemasok Tembakau, Shabela meminta agar dilakukan pengemasan dan branding Tembakau dari Gayo dengan baik sehingga tidak diklaim oleh daerah dan pihak lain.

PT. Tata Usaha Bersama berkantor di Karo, Sumatera Utara, Perusahaan yang bergerak di bidang tembakau itu telah berdiri sejak 1982. Kabupaten Aceh Tengah satu-satunya mitra perusahaan dari Aceh. Kemitraan dengan Koperasi GMJ yang memiliki keseriusan sehingga lahirnya satu kesepakatan kerjasama.

Manager Produksi PT. Tata Usaha Bersama A Cai mengatakan kebutuhan tembakau oleh perusahaan saat ini mencapai 100 ton perhari. Kebutuhan itu dipasok dari Lombok dan sebagiannya dari luar negeri. Dengan kebutuhan tembakau skala besar agar dapat dimanfaatkan petani tembakau di Aceh Tengah untuk menumbuhkan sumber ekonomi baru.

Ketua Koperasi GMJ, Sukurdi Iska mengatakan kerjasama dilakukan atas aspirasi petani tembakau di Aceh Tengah yang memiliki keterbatasan pasar. Beranjak dari permintaan itu, pihaknya mulai menjajaki pasar sehingga mendapat kesepakatan bersama dengan PT. Tata Usaha Bersama.

PT. Tata Usaha Bersama tidak hanya bersedia menampung bahan baku, namun juga menjadikan petani tembakau sebagai kelompok binaan perusahaan, mulai dari penanaman hingga pengiriman.

Dengan kerjasama itu, petani mendapat pelatihan, mulai dari pemilihan benih, cara menanam hingga panen, sehingga menghasilkan tembakau yang berkualitas. Tembakau yang akan dikembangkanpun beragam, seperti jenis tembakau white burley dan jenis virginia.

Kerjasama itu diharap mampu memberi peluang ekonomi baru bagi masyarakat Aceh Tengah disamping komoditi kopi Gayo. “Kita berharap ini juga menjadi komoditi unggulan nanti yang mampu menambah pendapatan baru bagi masyarakat Aceh Tengah,” katanya.

Pemerintah daerah berharap, naskah kerjasama tidak sebatas simbolis. Namun mampu berjalan dengan baik. Mitra di bidang tembakau itu juga diharapkan mampu meningkatkan dan mempertahankan harga tembakau.

Dengan kerjasama, petani di wilayah Pegasing Kabupaten Aceh Tengah mulai melakukan uji tanam tembakau untuk tujuan pengembangan tanaman tembakau di wilayah tersebut dengan mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

Uji tanam dilakukan oleh Kelompok Tani Tuah Jaya di lahan SMK N 2 Takengon. Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, turut hadir dalam kegiatan tersebut serta ikut melakukan penanaman perdana bibit tembakau terbaik dari Gayo di lahan uji coba. “Prinsipnya kita dukung seluruh upaya masyarakat. Soal tembakau, kita punya yang terbaik. Hanya kendalanya saat ini di teknologi dan pemasaran,” tutur Shabela.

Shabela mengingatkan agar para petani tetap mewaspadai harga jual tembakau yang tidak selalu stabil. “Sehingga perlu juga dipikirkan tanaman lain yang dapat ditumpangsarikan dengan tanaman tembakau,” saran Shabela.

Melihat upaya yang dilakukan Kelompok Tani Tuah Jaya Pegasing, Shabela, merasa yakin tembakau Gayo akan kembali berjaya dan mampu memberi dampak pertumbuhan ekonomi yang baik bagi para petaninya. “Kita gaungkan tembakau Gayo ini kembali, kita mulai dari Pegasing,” ujarnya.

Uji tanam yang dilakukan merupakan kelanjutan dari studi banding yang dilakukan oleh Kelompok Tani Jaya Pegasing ke lahan pertanian tembakau di Sumatera Utara dan perusahaan tembakau disana.

Ketua Kelompok Tani Tuah Jaya, M Yunus, mengatakan pihaknya juga telah menjalin kerjasama terkait pemasaran tembakau yang akan dikembangkan oleh petani di Gayo. “Kita lihat di Sumatera Utara sistem pasarnya sudah mulai baik,” kata Yunus.

Petani ini berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah terus memberi dukungan secara berkelanjutan kepada para petani untuk kembali bisa mengharumkan nama tembakau gayo sebagai tembakau kualitas terbaik yang banyak diminati para pecinta tembakau.

Dengan adanya kerjasama serta pembinaan terhadap petani temkabau di bawah binaan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Aceh Tengah yang juga diketuai Sukurdi Iska, SH, pihaknya melakukan pengiriman perdana tembakau sebanyak 2,5 Ton yang dilepas oleh Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar didampingi sejumlah pimpinan OPD terkait antara lain Kepala Dinas Pertanian Nasrun Liwanza dan Kepala Perdagangan Koperasi dan UKM Joharsyah bertempat di Kantor APTI setempat di kawasan Kemili, Minggu (27 September 2020).

Tembakau yang dikembangkan jenis White Barley pada lahan yang tersebar di beberapa kecamatan di Aceh Tengah. “Daun tembakau yang dikirim perdana sebanyak 2,5 ton ke PT. Mitra Tata Usaha Bersama, sebuah perusahaan rokok putih di Sumatera Utara,” terang Sukurdi.

Daun Tembakau yang dikirim tersebut masih merupakan hasil percobaan dan ditanam petani perorangan. Saat ini tahap penanaman kedua sedang kita lakukan di lahan seluas 250 hektar di Aceh Tengah dan 80 hektar di Bener Meriah, dengan perkiraan panen pada Februari atau Maret tahun depan.

Perusahaan sesuai MoU telah mendesak pihaknya untuk mengirim daun Tembakau sebab berdasarkan hasil tes laboratorium, grade sampel tembakau memperoleh nilai 2,9. Jika grade Tembakau mencapai nilai 3 maka tidak perlu dicampur lagi dengan Tembakau Amerika.

“Mereka antusias terhadap Tembakau kita, padahal awalnya sangat susah karena petani masih menggunakan metode tradisional, setelah gagal baru beralih sistem lebih modern, Tembakau kita sangat bagus kualitasnya dan dapat mencapai 3 meter tingginya,” ujarnya.

“Beberapa masyarakat kita juga sudah memproduksi Cerutu Gayo, kita minta untuk memakai Cukai Tembakau dan diurus izinnya agar mudah dipasarkan,” harapnya.***