Mewarnai Himne Aceh dengan Keberagaman

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Letaknya berada di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling ujung indonesia bagian barat. Aceh memiliki 23 kabupaten kota serta memiliki 9 bahasa daerah. Provinsi aceh sanagat istimewa karena memiliki keanekaragaman bahasa, adat istiadat namun keanekaragam itu belum bersatu masih dalam pecah kongsi, oleh karna itu keanekaragaman yang berada di provinsi aceh harus disatukan agar menjadi suatu kekuatan yang menjadikan aceh hebat dan aceh bermartabat.

Akhir akhir ini kita diributkan dengan polemik yang berada di aceh yaitu tentang Himne Aceh yang di sayembarakan. merujuk kepada kutipan dari Ketua Steering Commite (SC) Sayembera Himne Aceh, bapak Abdullah Saleh, “Bendera, lambang, dan himne adalah salah satu yang diperintah oleh UUPA dalam Pasal 248 ayat (2) dan (3). Karena perintah UUPA, DPRA kemudian merancang qanun tentang bendera, lambang, dan himne, yang menjadi qanun prioritas tahun 2017. Sedangkan untuk kriteria himne Aceh yang diperlombakan harus dilantunkan dalam bahasa Aceh, berlandaskan syariat Islam, mencerminkan budaya Aceh, semangat kecintaan, perjuangan, dan identitas masyarakat Aceh. “Himne mencerminkan aspek filosofis, historis, sosiologis, politis, dan dinamika masyarakat Aceh,” sumber http://aceh.tribunnews.com/2017/10/18/himne-aceh-disayembarakan

Untuk kriteria lantunan himne aceh yang harus mengunakan bahasa aceh, disini letak akar permasalahanya, dan disini yang menuai protes di beberapa kabupaten kota yang berada di Provinsi Aceh. Salah satunya yang terjadi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dimana mereka melakukan aksi demo yang mengatas namakan Gayo merdeka. Bagi saya pribadi, itu merupakan sesuatu hal yang wajar, karena bagi mereka merupakan salah satu bentuk protes.

Sebelum kita bahas saya mau bercerita tentang keanekaragam bahasa yang ada di Provinsi Aceh terlebih dahulu. Aceh itu istimewa karena memiliki 9 bahasa daerah diantaranya bahasa aceh, bahasa gayo, bahasa alas, bahasa aneuk jamee, bahasa kluet, bahasa haloban, bahasa singkil, bahasa simeulue dan bahasa tamiang. Nah pertayaan pertamanya serdehana, kenapa hanya bahasa aceh saja yang digunakan dalam Himne aceh? Pertayaan kedua, apabila hanya mengunakan bahasa aceh saja dalam lantunan Himne aceh dimana letak nilai nilai filosofi, histori dan sosiologinya? Semoga bisa menjadikan ini sebagai bahan Evaluasi untuk bapak ibu yang ada di DPRA.

Disini saya memiliki tawaran solusi tentang himne Aceh, dimana lantunan liriknya dikemas dalam keanekaragam, maksud dari keanekaragama itu kesembilan bahasa yang berada di Provinsi aceh masuk semua ke dalam lantunan himne Aceh dan mengarah kepada kearifan lokal, agar kabupaten kota yang lain tidak akan merasa tersisihkan dengan memuatkan nilai-nilai keadilan, filosofi, histori dan sosiologinya dapat semua yang disebut dengan khebinekaan. Tapi ini hanya usulan saja diterima alhamdulilah kalau tidak diterima juga tidak apa apa,pungkasnya.

Sebagai putra aceh saya ingin berkontribusi, ikut serta dan berperan dalam kemajuan aceh sebagai tanda loyalitas untuk mengabdikan kepada tanah leluhur. Dan terkahir saya ingin menyampaikan Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh maka kita harus bersatu untuk mecapai Kebhinekaan untuk aceh yang hebat, Aceh yang religius, Aceh yang gemilang dan aceh yang bermartabat

Penulis Sahabul Adri AR Penerima beasiswa LPDP_RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *