Home Aparatur Politisi: Pelaku Usaha Kecil Kian Terpuruk Saat Pandemi

Politisi: Pelaku Usaha Kecil Kian Terpuruk Saat Pandemi

93
Fauzi (28) warga Lam Ateuk bersama sedikitnya 15 perajin sol sepatu di kawasan Brawe Banda Aceh/Foto. Tanohgayo/Agus RB

Banda Aceh, Tanohgayo – Politisi Partai Demokrat  Tarmizi Age mendesak pemerintah segera menyalurkan bantuan-bantuan lanjutan masa pandemi dan mengupayakan lapangan kerja baru  guna menampung lebih banyak pekerja sehingga mengatasi pengangguran selama pandemi.

“Bantu mereka pelaku usaha makin terpuruk, bisa modal usaha atau bantuan sosial lainnya demi bertahan selama pandemi. Buka peluang kerja yang bisa menampung beberapa pekerja guna mengatasi pengangguran,” jelas Tarmizi dihubungi Tanohgayo lewat ponsel di Jakarta (25/10).

Menurut Tarmizi, pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha kecil terpukul, minimnya penghasilan, sebahagian lainnya tak mampu bertahan dan jadi pengangguran.

“Ada industri yang sudah berkembang, mohon diperhatikan di wilayah-wilayah seperti Bireuen dan Peudada, sejak pernah dibuka sampai sekarang belum ditindaklanjuti pembangunannya , termasuk beberapa unit usaha di pantai timur Aceh terkait pangan. Tapi mana selama ini,belum jalan,” ungkap Tarmizi.

Sentra industri menengah, tambah Tarmizi, terutama sawah tadah hujan di kawasan Peudada yang direncanakan harapannya banyak pekerja terlibat sektor pangan, termasuk juga industri pabrik tepung kelapa yang ada di Bireuen belum jalan, dengan infrastruktur penunjang transportasi menuju dan keluar area industri belum tersedia.

“Yang padat pekerja belum tersentuh, memang ada bantuan-bantuan sekadar beratahan. Pemerintah jangan lamban kan dana Aceh cukup banyak, disamping bantuan Covid dan lainnya,”paparnya.

Laporan Badan Pusat Statistik BPS Aceh Februari 2020 tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Aceh sebesar 5,42 persen. Jumlah angkatan kerja sebanyak 2.510 ribu orang, naik 52 ribu orang dibanding pada Februari tahun lalu. Namun , jumlah pengangguran mencapai 136 ribu orang hingga Februari 2020. Dari angka tersebut, jumlah penyumbang pengangguran paling banyak dari kalangan lulusan perguruan tinggi.

Beberapa pelaku usaha mengaku baru menerima bantuan sembako sebagian yang lain masih bertahan menunggu, karena belum menerima bantuan apapun.

Taat Prokes gunakan masker, Ramli (50) berdagang daging sapi di kawasan Brawe Banda Aceh.

“Jangan lihat saya jualan dagingnya makanan orang kaya, saya kerja sama majikan pemilik daging, saya operator cuma menjualnya,”ungkap Ramli.

Ramli berharap ada perhatian pemerintah kepada pelaku usaha sepertinya dan mendapatkan bantuan selama pandemi.
Menurut Ramli daya beli warga menurun, juga berdampak kepada pelaku usaha kecil sepertinya.

Fauzi (28) warga Lam Ateuk bersama sedikitnya 25 perajin sol sepatu mengaku selama pandemi kunjungan pelanggan minim.

“Sehari dari hasil jahir sepatu bisa Rp 100 ribu sebelum Covid, sekarang bawa pulang Rp 50 ribu saja berat, bantuan buat saya di kampung baru terima sembako, yang lain belom pernah lagi.”jelasnya.

Fauzi mengaku bertahan demi keluarga, sebagai pasangan muda dengan istri dan seorang balita.

Sejak diluncurkan untuk pertama kalinya September lalu oleh Presiden Jokowi, pemerintah telah menggelontorkan dana Rp203,9 triliun untuk klaster perlindungan sosial yang direalisasikan dalam berbagai program, penyaluran program bantuan sosial ini salah satunya dalam bentuk Program Keluarga Harapan PKH telah tersalurkan sebesar Rp 29,133 triliun kepada 10 juta penerima manfaat.

Program Keluarga Harapan seperti dikutip laman pkh.kemensos.go.id, yang selanjutnya disebut PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH.

Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara dalam mengatasi masalah kemiskinan kronis. (Agus Rahmad B)