SOMPO Ajak Mahasiswa RI Lebih Peduli Lingkungan

174
Sompo Environment Foundation melepas 20 mahasiswa angkatan ketiga yang terpilih untuk ikut serta dalam program Magang Pembelajaran LSM di Indonesia melalui acara daring, Selasa (10/2). Sompo Environment Foundation telah mengadakan program magang serupa di Jepang sejak tahun 2000 yang telah menarik lebih dari 1.100 peserta hingga saat ini dan bekerja sama dengan Japan Environmental Education Forum untuk menyelenggarakannya di Indonesia./Visual Sompo

Kementerian LHK: Bagian Dari Usaha Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan

Jakarta, Tanohgayo.com – Setelah 20 tahun sukses mendorong anak-anak muda di Jepang peduli pada isu lingkungan, Sompo Environment Foundation terus merangkul lebih banyak generasi muda Indonesia dalam program bernama NGO Learning Internship Program yang sudah berlangsung sejak 2019.

“Tahun ini adalah tahun ketiga program ini berjalan di Indonesia dan mendapat perhatian yang sangat besar dari para mahasiswa. Kami sangat senang melihat anak muda Indonesia memiliki kesadaran dan antusiasme tinggi mengambil langkah proaktif untuk menanggulangi masalah lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Sompo Environment Foundation Yoshikazu Nishiwaki dalam media briefing secara daring di Jakarta, baru-baru ini.

Nishiwaki menjelaskan program ini bertujuan mengajak mahasiswa Indonesia terlibat aktif dan memperdalam pemahaman mereka tentang berbagai masalah lingkungan, termasuk perubahan iklim dan konservasi hutan, serta untuk memperluas kesadaran mereka tentang pekerjaan yayasan lingkungan dalam menangani masalah-masalah tersebut.

“Melalui keikutsertaan generasi muda dalam kegiatan ini, Sompo Environment Foundation berharap mereka dapat berkembang menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kesadaran lingkungan,” katanya.

Dikatakan Nishiwaki, program yang hadir di Indonesia sejak tahun 2019 ini menerima ratusan mahasiswa yang mendaftar program. Pada tahun 2021, setelah melalui peninjauan lamaran dan wawancara, terpilih 20 mahasiswa magang yakni dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dan lain-lain.

Seluruh peserta akan disebar di tujuh yayasan lingkungan di Jabodetabek yakni Benua Lestari Indonesia, Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), Burung Indonesia, Conservation International Indonesia, DeTara Foundation, InSWA, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP).

Sementara itu, dalam acara yang sama Direktur Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jo Kumala Dewi menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara dan mitra yang telah menginisiasi program yang memberdayakan generasi muda sebagai Agen Perubahan.

“Program ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial dari mitra kerja Kementerian LHK yang telah menunjukkan kepedulian dan komitmen yang tinggi tentang bagaimana mengarusutamakan isu lingkungan kepada generasi muda,” katanya.

Salah seorang mahasiswi yang terpilih tahun ini, Shabrina Agustin menyatakan dengan turut serta dalam program ini, dia ingin memperluas perspektifnya terhadap berbagai isu sosial dan ekonomi yang terjadi saat ini, sebagai bekal di masa depan. Mahasiswi Institut Pertanian Bogor ini mendapatkan penempatan di yayasan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP).

Direktur Umum Japan Environmental Education Forum Indonesia, Makoto Yata, mengatakan pihaknya akan mendampingi para peserta dan menjalankan program ini di Indonesia selama 8 bulan mulai Februari hingga September.

“Dalam periode tersebut setiap peserta wajib mengikuti berbagai aktivitas lingkungan bersama yayasan masing-masing. Mereka juga mendapat tunjangan Rp100 ribu per hari untuk transportasi dan makan, maksimum 75 hari per mahasiswa. Peserta juga diwajibkan mengikuti pertemuan bulanan dan mengirimkan laporan bulanan kepada SOMPOEF,” terang Yata yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini.

Sebelum pandemi Covid-19, katanya, para mahasiswa diajak berpartisipasi dalam Work Camp untuk merasakan kegiatan perlindungan lingkungan yang sebenarnya. Di antaranya ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan menghadiri Seminar Jurnalistik Lingkungan yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kini di masa pandemi Covid-19 ini, lanjutnya, pertemuan dilakukan secara daring dan tatap muka dengan menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan. (ril)