Apakah Kesejahteraan Rakyat akan Bersahabat dengan Kepentingan Oligarki?

149

Saya sedang memikirkan ulang tentang proyek tambang ini (Tambang di Kecamatan Linge Aceh Tengah), berdialog dengan hati nurani dan menghadirkan pikiran jernih kembali tentang sikap yang menghadirkan kemaslahatan bagi tanah Linge dan generasinya.

Tulisan ini tentu akan saya urai dari kaca mata sosial dan politik yang selama saya tekuni, mengamati tentang kata dan realita yang selama ini terjadi disudut negeri ini, dimana tambang menjadi lembah penderitaan bagi penduduk sekitarnya. Sebagai putra daerah yang pernah lahir dan menginjakan kakinya ditanah juang melawan penjajahan, ingin menyumbangsihkan pikirannya pada dinamika tambang yang belum juga usai dan bagaimana masa depan umat manusia ditanah sejarah yang heroik ini?

Banyak sekali orang berbicara tentang kemakmuran, uang atau masa depan anak dan istri, berharap dan bertumpu pada proyek tambang yang akan dihadirkan oleh para oligarki, karena kemiskinan yang telah menyiksa diri. Pertanyaannya apakah kesejahteraan rakyat akan bersahabat dengan kepentingan oligarki?

Saudaraku, jangan terlalu dini bernegosiasi dengan para oligarki. Lembaran kertas dan ucapan hanya sekedar janji, rakyat-rakyat lemah telah dikhianati dan tak ada yang akan mampu membela diri. Setelah kau dikhianti, kau mencari keadilan di depan gedung dewan-dewan yang mulia dan pemimpin yang ikut menanda tangani sebuah lembaran janji.

Sekarang coba anda cari berita terkini, apa yang terjadi di Ketapang Kalimantan Barat, rakyat harus berhadapan dengan anggota Polri, bukankah begitu kejamnya para oligarki menggunakan tangan anggota Polri memusuhi rakyat yang seharusnya mereka ayomi.

Saudara, kita orang lemah tidak akan mampu melawan para bedebah. Para bedebah itu adalah setetes racun. Jangan biarkan setetes racun mengotori air yang mengalir tempat anak-anak mencari sesuap nasi, sungai itu adalah kehidupan bagi penduduk linge saat ini.

Kalau anda dikhianti kepada siapa anda berlindung diri? Apakah anda punya kekuatan politik untuk menyelesaikan persoalan tambang yang pada akhirnya lingkungan akan tercemari dan penuh polusi?

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke Lapas Suka Miskin, menemui mantan gubernur yang terjerat OTT KPK yang dijatuhi hukuman karena korupsi senilai Rp. 500 juta. Kasus ini banyak kejanggalan dalam benak saya, pertanyaan-pertanyaan yang mesti dijawab oleh yang bersangkutan. Saya memandangi sosok mantan gubernur ini sudah sudah tak sebugar dulu, mungkin faktor usia, kekuatan pendengaran dan pikirannya tidak setajam dulu.

Saya sengaja mengambil posisi yang lebih dekat dengan beliau, hingga beberapa kali menepuk tubuhnya untuk menunjukan sikap keramahan, meskipun ini merupakan pertemuan pertama saya dengan beliau dan mencoba mengulik apa yang terjadi hingga harus terseret ke jeruji besi.

Mungkin anda melihat kasus ini hanya dari pintu yang mengkorupsi dana Rp.500 juta, maka itu terlalu kecil sekelas gubernur korupsi hanya beberapa digit saja. Bahkan ini bukan sekedar tentang rival politik dipemerintahan tapi lebih mecengangkan adalah adanya campur tangan dari oligarki.

Sosok mantan Gubernur yang saya cerita ini punya teman dekat di kementriaan yang saat ini aktif menjabat, bahkan salah satu pemilik tambang terbanyak di Indonesia, bisa dibayangkan menteri sekaligus pemain dari para oligarki.

Beberapa kali ia diminta dan disodorkan sebuah perizinan, agar diberi izin beroperasinya perusahaan tambang dibeberapa tempat yang sudah menjadi incaran para oligarki. Namun mantan gubernur tetap bersikeras tidak memberi izin karena tidak menghasilkan kesepakatan yang memihak kepada kepentingan rakyat banyak. Karena tidak ada titik temu, selang beberapa waktu kemudian ia sempat ditelpon dan diingatkan oleh rekannya sendiri, bahkan sempat tiga kali dihubungi untuk berhati-hati. Namun, memang takdirnya harus ditangkap dan meneruskan hidup beberapa tahun di dalam lapas. Kuatnya keterlibatan oligarki yang tak bisa saya sampaikan secara detail disini, barulah saya mengerti ungkapan Buya Karni Ilyas: “Tidak semua yang saya tahu bisa saya katakan. Tidak semua yang saya alami bisa saya ceritakan.”

Sekarang coba dipikirkan cukup pakai logika bodoh anda, salah satu orang yang berpengaruh di satu provinsi bahkan kekayaannya ditaksir sekitar Rp. 14.8 Miliar bisa singkirkan dalam perpolitikan lokal yang dalam sejarahnya punya basis gerakan militer. Kalau orang yang saya ceritakan tersebut bisa dilenyapkan, lantas anda siapa begitu berani berhadapan dengan oligarki???

Apakah anda akan menunggu waktu dimana anda akan menangis dihadapan para hakim menuntut keadilan? Apakah anda akan mengharapkan persatuan di tengah titik lemah dan penindasan? ingat saudara, orang-orang akan berpaling dan membisu karena ancaman, karena “tidak ada yang namanya derita bersama, yang hanya keuntungan bersama.”

Saya ingin menyampaikan sebuah fakta apa yang dialami saudara kita Batam, Sebanyak 575 dari 719 perusahaan modal asing (PMA) dan perusahaan modal dalam negeri (PMDN) di Pulau Batam tak mengantungi analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) seperti yang digariskan. Dari 274 industri penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), hanya 54 perusahaan yang melakukan pengelolaan pembuangan limbahnya secara baik. Sisanya membuang limbahnya ke laut lepas atau dialirkan ke sejumlah dam penghasil air bersih. “Tragisnya, jumlah limbah B3 yang dihasilkan oleh 274 perusahaan industri di Pulau Batam yang mencapai tiga juta ton per tahun selama ini tak terkontrol. Hingga hari ini belum ditemukan  solusinya!!!”

Kini saya ingin bertanya, pernahkah anda berpikir dimana suara-suara dewan yang anda pilih?. Jika rakyat tidak menghendaki tambang ini, bukankah dewan perwakilan rakyat paling pekik suaranya untuk menolak dan menekan eksekutif agar tidak disetujuinya pendirian tambang tersebut. Apakah ia telah menjadi setan bisu yang melanggengkan kepentingan oligarki?.

Jika kita tak menghendaki, jangan biarkan  serangga beracun itu berterbangan di bibir gelas suci, jangan biar bisikan uang mengeruhkan kejernihan alam dan airnya.

Diakhir tulisan ini satu penegasan yang ingin disampaikan, jika anda bagian dari orang-orang yang mendukung misi oligarki, maka sejarah akan mencatat itu semua. Saya adalah orang yang akan berkomitmen menulis sejarah tersebut, nama-nama pengkhianat perlu di abadikan dalam memori generasi dimasa yang akan datang. Atas jasa anda membangun tembok penjajahan untuk menindas para warga.***

Artikel ini ditulis oleh Shabirin Arga, dengan Judul Limbah Derita dan Kejamnya Oligarki . Arga merupakan Direktur Media dan Literasi Prodewa, sekaligus Pengamat Sosial dan Politik.