Buku “Resam Berume” Akan Masuk Ke Mulok

74

Takengon, tanohgayo.com-Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Majelis Adat Gayo (MAG) dalam waktu dekat akan menerbitkan buku dengan judul “Resam Berume”. Buku tersebut akan menjadi bahan ajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang tersebar di seluruh sekolah di Kabupaten berhawa sejuk itu.

Kepala Sekretariat Majelis Adat Gayo Aceh Tengah, Junaidi mengatakan, buku itu nantinya disalurkan untuk Kelas 3, 4 dan kelas 5. “Yang akan disusun ada lima buku, Modul kelas 3, modul kelas 4, modul kelas 5, silabus dan buku panduan guru,” kata Junaidi, Sabtu (17 Juli 2021), saat menggelar kegiatan Fokus Group Discussion di Kampung Aula Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah.

Peserta FGD diantaranya, Mukim sebanyak 7 orang, Kejurun Belang 10 orang, tokoh masyarakat 10 orang dan petani sawah sebanyak 6 orang, total peserta sebanyak 33 orang.

Jelas Junaidi, beberapa tahapan dalam penyusunan buku tersebut telah dilalui, diantaranya, kunjungan ke tujuh kecamatan untuk menginput data. Kecamatan Linge, Bintang, Lut Tawar, Kebayakan, Bebesen, Pegasing, Celala dan Silihnara.

Sedangkan kampung yang dituju adalah, Bebesen, Paya Beke, Linung Bulen, Gelelungi, Kebayakan, Nosar, Pantan Nangka, Arul Kumer, Lenga, Penarun dan Kampung Bewang.

“Dalam kalender kerja, buku ini akan dicetak pada Oktober-November 2021 mendatang, setelah itu baru didistribusikan keseluruh sekolah yang ada di Aceh Tengah,” terang Junaidi berharap kegiatan FGD itu dapat menerima masukan-masukan dari semua peserta.

Sementara itu, Ketua Majelis Adat Gayo Aceh Tengah Banta Cut Aspala mengatakan, buku itu penting untuk diterbitkan, mengingat tekhnologi saat ini semakin canggih, khawatir, generasi yang akan datang tidak lagi mengenal tentang tahapan-tahapan yang ada di dalam bersawah di Gayo.

“Buku ini tujuannya untuk menjelaskan kembali tentang “Resam Berume”, saat ini banyak yang sudah dilakukan dengan mesin, kita khawatir, kelak budaya ini akan tinggal nama dan generasi tidak lagi mengenal tahapan-tahapan dan istilah istilah yang ada di dalam bersawah,” kata Aspala.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar sangat mengapresiasi terbitnya buku dan dimasukan dalam kearifan lokal tingkat SD/MI Sederajat. Membangkitkan kembali gairah budaya orang terdahulu dalam dunia pendidikan adalah sebuah kewajiban kita semua sehingga generasi tidak melupakan identitasnya sebagai orang Gayo.

“Ini perlu diketahui anak-anak, kedepan, kami minta terbitkan buku tentang Resam dalam pernikahan, supaya generasi tahu bagaimana adat di dalam pernikahan. Saat ini kita melihat Aceh Tengah angka perceraianya sangat tinggi, ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama,” terang Shebala.

Ia mengaku, ketika anak-anak, pernah terlibat dalam prosesi membajak sawah hingga panen. Kini, kata dia, jika ditanya kepada generasi milenial masih banyak yang belum mengetahui nama-nama prosesnya.

“Dengan buku ini kita sadarkan anak-anak kita, kita punya adat dan budaya sendiri, meski tekhnologi ke depan semakin canggih, kita perlu memberitahu generasi kita bahwa dulu begini prosesi dalam bersawah,” terang Shabela.

Ke depan ia berharap, Majelis Adat Gayo terus eksis dalam mensosialisasikan adat istiadat di tengah tengah masyarakat. Paratur kampung diminta terus berperan di kampung dalam menyelesaikan sengketa adat. Sehingga meminimalisir kasus-kasus yang berujung ke pidana.

“Semua aparatur desa harus berperan melestarikan adat, ini tugas kita bersama, kita punya wewenang dalam 18 Pasal di Aceh ini, begitupun dengan Aceh Tengah, selesaikan di kampung, Pemerintah telah memberi mandat untuk itu, maka jalankanlah,” pungkas Shabela. (RL/wyra)