Hasil Penelitian Arkeologi Balar Sumut di Takengon Telah Mereposisi Keberadaan Teori Migrasi Austronesia

80
Shabela Abubakar membuka kegiatan Seminar Hasil Penelitian Arkeologi Austronesia di Indonesia Bagian Barat bertempat di Ballroom Hotel Parkside Gayo Petro Takengon, Jum’at (21 Mei 2021).

Takengon, tanohgayo.com- Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Utara menggelar Seminar Hasil Penelitian Arkeologi Austronesia di Indonesia Bagian Barat bertempat di Ballroom Hotel Parkside Gayo Petro Takengon, Jum’at (21 Mei 2021).

Seminar yang mengulas topik kajian tentang Budaya Austronesia Prasejarah di wilayah budaya Gayo itu, menghadirkan sejumlah stakeholder terkait dan dibuka secara resmi oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar.

Bupati Shabela Abubakar menyebutkan, seminar itu bernilai sangat penting sebagai upaya berkelanjutan untuk mengungkapkan identitas dan kehidupan suku bangsa Gayo sejak jaman dahulu (prasejarah), serta melihat persepsi masyarakat terhadap hasil penelitian yang sudah dilakukan.

“Penemuan dan penelitian arkeologi ini harus terus kita gaungkan agar masyarakat menyadari begitu besarnya budaya dan peradaban yang telah diwariskan leluhur kita dimasa lalu, sekaligus ada upaya kita hari ini untuk terus melestarikan peradaban budaya dan mewarisinya kepada generasi yang akan datang,” kata Shabela.

Bupati Shabela menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sepenuhnya akan terus mendukung upaya yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumut dalam melakukan penelitian di daerah ini, serta berkomitmen untuk melakukan upaya perlindungan serta langkah-langkah dan upaya yang harus dilakukan terhadap hasil penelitian dan penemuan yang sudah didapat.

Oleh karena itu, Bupati Shabela berharap melalui kesempatan (seminar) tersebut dapat terbangun diskursus dan sinergi antar pihak baik pemerintah, pemerhati budaya, guru sejarah dan komponen masyarakat lainnya, agar temuan/ penelitian arkeologi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Karena kita yakini bersama, agar temuan ini dapat dikembangkan secara berkelanjutan perlu upaya pelestarian dan menjadi tanggung jawab bersama,” tambah Shabela.

Agar pelestarian dan pengelolaan temuan arkeologi itu dapat terpelihara dan memberi manfaat bagi masyarkat, lokasi penemuan situs cagar budaya tersebut akan terus dibenahi dan akan dijadikan salah satu objek wisata edukasi prasejarah.

Sebelumnya Kepala Balar Sumut, Dr. Ketut Wiradnyana, M.Si dalam sambutannya mengemukakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam kaitannya dengan tanggungjawab balai arkeologi untuk menyampaikan hasil temuan dan penelitiannya kepada khalayak ramai untuk diketahui.

Dikatakannya, seminar ini diarahkan untuk mengajak stakeholder terkait untuk mengupas dan memperkaya sumber informasi mengenai sejarah migrasi manusia prasejarah sekaligus juga untuk mengajak masyarakat untuk kritis mengkaji dan mereposisi keberadaan ilmu arkeologi yang selama ini dianggap sebagai acuan teori, semisal teori migrasi Austronesia.

“Hasil penelitian dan temuan kita dalam galian prasejarah di daerah ini membuahkan teori yang berbeda dengan teori migrasi yang selama ini diyakini para arkeolog,” kata Ketut.

“Jadi temuan ini secara tidak langsung telah mereposisi keberadaan teori migrasi Austronesia yang selama ini telah ada,” sambungnya.

Dalam kaitannya dengan kegiatan seminar dan hasil penelitian tersebut, Ketut mengajak para penulis aktif (sejarawan) terutama dari kalangan guru sejarah untuk dapat melakukan penulisan ilmiah tentang penemuan ini sebagai bahagian sejarah bangsa yang harus diketahui generasi muda, sehingga pada masa yang akan datang, temuan arkeolog ini bukan hanya dikenang sebagai legenda semata yang dituturkan secara forklore atau di daerah ini dikenal dengan “kekeberen”.

Selain Ketut Wiradnyana, dalam kegiatan seminar yang berlangsung, menghadirkan nara sumber Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Uswatuddin dengan Pemantik Diskusi Drs. M. Syukri, M.Pd. (RL/AG)