Juara Esport Aceh Tengah 2021 Perlu Pembinaan

90
Ketua ESI Aceh Tengah, menyerahkan hadiah kepada atlet Esports (efootball) yang meraih juara di turnamen Esports Aceh Tengah 2021, Minggu (07 November 2021)

Takengon, tanohgayo.com- Tournament Esports Aceh Tengah resmi ditutup oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni), Ir Djumhur. Kegiatan final diselenggarakan di aula Parkside Petro Gayo Hotel, Minggu (07 November 2021).

Game yang dipertandingkan oleh panitia adalah permainan peranti bergerak berjenis MOBA Mobbile Legenda Bang Bang dan Pro Evolution Soccer (PES) kini dikenal dengan sebutan eFootball.

Keluar sebagai juara di final adalah untuk PES, juara satu diraih oleh Khairul Fata, juara dua Rahmatsyah Putra, juara 3 Agung Firmansyah dan juara empat adalah Syahlan Habibi.

Sedangkan untuk juara Mobile Legenda adalah, juara satu diraih oleh tim ESI Aceh Tengah, juara tim Mythical, juara tiga tim Glory dan juara empat diraih oleh tim Jangkrik Boss.

Ketua umum Esports Seluruh Indonesia (ESI) cabang Aceh Tengah, Wen Y. Rahman mengatakan, kegiatan itu sebelumnya diagenda dengan Piala Bupati Aceh Tengah.

Adanya pro kontra olahraga yang berbasis game elektorinik di Aceh, panitia meniadakan beberapa pertandingan. Sebagai upaya menghormati adanya Fatwa MPU Aceh yang telah dikeluarkan dan saat ini menjadi polemik dilapangan. Dalam Fatwa itu mengharamkan game PUBG dan sejenisnya.

“Sebelum event ini dilaksanakan, kami sudah koordinasi dengan beberapa pihak. Untuk keberlanjutan esports di Aceh Tengah, kami sudah sampaikan kepada ESI Provinsi. sehingga event lokal selanjutnya ada kejelasan. Cabor adalah organisasi untuk membina atlet,” kata pria yang kerap disapa Wyra.

“Kami menghargai Fatwa MPU Aceh, sehingga dalam pelaksanaanya kami tiadakan yang namanya PUBG. Untuk itu hanya ML Bang Bang dan PES yang dipertandingkan,” timpalnya.

Namun sembari adanya menunggu kepastian keberlanjutan Esport di Aceh, para atlet yang berhasil menang dalam kegiatan resmi di lokal, maupun nasional diharapkan menjadi corong sosialisasi kepada para masyarakat.

Sosialisasikan dengan santun apabila menjawab berbagai isu negatif tentang esport. Kehadiran Esport adalah untuk pembina an sehingga Aceh mampu bersaing di tingkat Nasional bahkan internasional.

“Di PON Papua ada delapan game yang dipertandingkan, kita harus persiapkan diri, untuk itu kita lakukan pembinaan menghadapi PON 2024 di Aceh-Sumut sebagai tuan rumah, kita menunggu arahan dari PB ESI Pusat,” kata Wyra.

Selanjutnya kata Wyra, kegiatan E-sport di Aceh apakah dapat dipertandingkan, pengurus kabupaten/kota menunggu hasil FGD di tingkat nasional dan provinsi antara ESI dengan seluruh stake holder terkait. (AG)