Soal Dry Port, Aceh Tengah Tertinggal Selangkah dari …

137
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Joharsyah, MM (foto:ist)

Takengon, tanohgayo.com-Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar berencana membangun dry port dimasa kepemimpinannya. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai pembahasan dengan beberapa OPD di ruang kerjanya pada 24 Maret 2020 lalu. Usulan pembangunan dry port di Kabupaten Aceh Tengah sudah pernah digagas lebih dari 5 (lima) tahun yang lalu.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Joharsyah, MM  menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan konsultansi dengan Bappebti, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Perhubungan mengenai tindak lanjut atas pengajuan Proposal Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tentang Usulan Pembangunan dry por di Kabupaten Aceh Tengah.

Jelas Joharsyah, pihak Kementerian Perhubungan akan mengalokasikan sejumlah anggaran melalui APBN untuk kegiatan percepatan pembangunan dry port di Kabupaten Aceh Tengah seperti kegiatan survey lokasi dan pembuatan Detail Engineering Design (DED) dengan syarat Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah harus menyediakan lahan untuk lokasi terminal peti kemas ini minimal seluas dua hektar.

Bupati Aceh Tengah juga telah menginstruksikan kepada Dinas Pertanahan, untuk segera menjajaki areal lokasi yang dapat dijadikan sebagai calon tempat dry port dimaksud didirikan.

Melalui pembebasan tanah maupun menguatkan status tanah yang ada. Sehingga dokumen kepemilikan tanah dimaksud dapat dipergunakan dalam waktu dekat sebagai kelengkapan untuk dilakukan survey lokasi maupun kelengkapan DED yang akan dilakukan kementerian terkait.

Shabela berharap pembangunan dry port di Kabupaten Aceh Tengah dapat segera terealisasikan secepatnya, karena akan sangat membantu distribusi barang komoditi kopi Gayo yang langsung dikemas dari daerah asalnya, serta diharapkan mampu memicu multiplier effect dan nilai tambah dari perdagangan ekspor kopi.

Dry Port atau terminal peti kemas ini akan digunakan untuk mengatur arus distribusi ekspor kopi Gayo sebelum diangkut oleh kapal di pelabuhan Belawan Medan. Dengan keberadaan dry port dapat menjaga reputasi kopi Gayo serta memberikan perlindungan terhadap Indikasi Geografis (IG) kopi arabica Gayo yang dihasilkan dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues yang selama ini disinyalir dijadikan sebagai oplosan maupun brand lain bagi kopi-kopi dari luar Gayo, terutama kopi dari Sumatera Utara.

Namun, realisasi pembangunan dry port tersebut akan sedikit terhambat dan kalah selangkah dengan Pemkab Bener Meriah. Dimana Wabup Dailami bahkan telah menyerahkan dokumen perencanaan pembangunan atau Detail Enggeneering Design (DED) pembangunan Dry Port kepada Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah-I Provinsi Aceh, Ir. Mulyahadi, M.STr di Pendopo Wakil Bupati pada 07 Mei 2021.

Diungkap Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Joharsyah, MM bahwa pembangunan dry port di Aceh Tengah terkendala lahan, “Kita terkendala tanah di Dinas Pertanahan, mungkin dalam waktu dekat sudah ada solusi,” katanya via Whatapps, Sabtu (8 Mei 2021), tanpa menjelaskan kapan penyelesaian lahan tersebut.

Jelas Joharsyah, sebelumnya pemkab Aceh Tengah sudahh merencanakan pembangunanya di jalur Dua Paya Tumpi-Mendale. Dimana anggaran pembangunan akan disediakan Kementerian Perhubungan RI. “Dananya berapa kita minta itu disediakan oleh Kemenhub,” pungkasnya. (wyra)