Wisata Ekologi Masa Pandemi

309
Analis mengatakan kabupaten kota dengan potensi ekologi, seni budaya terjaga diharap menginspirasi banyak pelancong berwisata ke Aceh tahun 2021./Foto. Agus RB

Banda Aceh, Tanohgayo.com –Aceh perlu merampungkan cetakbiru pariwisatanya , mendisain wisata model yang menggabungkan aspek konservasi, edukasi sekaligus seni budaya yang mendorong potensi lokal sehingga lebih bangkit secara ekonomi dimasa new normal .

Praktisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) peduli pariwisata Ismuha M Hasan mengatakan, cetakbiru wisata Aceh perlu menjamin masyarakat menerima manfaat langsung dari pengembangan wisata tersebut.

“Contoh pengembangan wisata model hutan manggrove, semua aspek ada, edukasi konservasi sekaligus potensi ekonomi, Kota Langsa dan warganya saya pikir menuju ke arah itu dan ini cukup partisipatif,”ungkap Ismuha baru-baru di Banda Aceh.

Ia menilai, yang diinisiasi Kota Langsa bisa jadi model, warga dan pemkot menemukan model ekonomi baru wisata berbasis konservasi.

“Warga Langsa menemukan pasar baru dan menghidupkan konservasi kota dan harapanya dilakukan dipertahankan turun turun, memastikan kesejahteraan warganya di masa depan, dan yang paling utama jangan melupakan budaya lokal,” ucap Ismuha.

Menurutnya, Bali, Solo dan Yogyakarta melakukan hal itu, semua didisain simultan bersamaan, wisata mendatangkan dan sekaligus melihat kebudayaan itu sendiri.

“Yang mesti jadi catatan, semua program pemerintah dipahami warganya, masyarakat jadi bagian kunci, dan partisipasi warga muncul, wisata yang menghidupkan UMKM, konservasi dan nilai-nilai budaya lokal terjaga,”pungkas Ismuha.

Ismuha bersama kalangan usahawan muda bergabung dalam komunitas Marketing Club UMKM Aceh, komunitas ini mendeklarasikan UMKM adalah “energi” yang melahirkan kesejahteraan yang merawat kearifan lokal (local wisdom), klub ini didominasi kalangan enterprenuer muda Aceh.

Wisata konservasi cukup potensial

Sementara Pengamat Lingkungan TM Zulfikar mengatakan, Aceh perlu lebih selektif dan fokus mengembangkan wisata konservasi dan edukasi, termasuk apa yang tengah dirintis warga dan otoritas kota Langsa, sebuah inisiasi kabupaten kota meletakkan dasar pertumbuhan ekonomi hijau.

“Langsa cukup melesat, ada cukup bangak kemajuan terkait dengan pembangunan dan pertumbuhan hijau, bagaimana Langsa bisa mengembangkan hutan kota, dulunya jadi lahan perkebunan sawit kini jadi kawasan hutan kota, dan ada rencana perluasan kawasan,”kata TM Zulfikar.

Menurutnya, Pemko Langsa juga merencanakan perluasan kawasan maggrove , dan jadi objek wisata manggrove , ini salah satu yang bisa diandalkan Aceh.

“Kunjungan wisatawan luar mulai datang ke Langsa, ini salah satu yang dapat dicontoh sebagai salah satu konsep pembangunan hijau. Dan harapannya kita bisa meminimalisir lahan-lahan untuk kegiatan pembangunan yang kurang mendukung pelestarian lingkungan,”tambah TM Zul.

Ia mengatakan, kalau ada rekomendasi Aceh Selatan cukup baik untuk pengembangan ekowisata.

“Ada ratusan objek wisata di sana, kalau di pesisir timur Aceh Besar kabupaten dengan potensi yang sama, Banda Aceh Sabang Jantho, Aceh Besar (Basajan), selain juga berpotensi dikembangkan menjadi wilayah industri, ini kabupaten rekomendasi yang layak jadi pertimbangan.”pungkas TM Zulfikar.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh baru-baru ini menyatakan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi Provinsi Aceh sepanjang 2019 mencapai 34,4 ribu orang, turis Malaysia masih mendominasi , secara kumulatif dari Januari ke Desember 2019 sebanyak 34.465 orang, mengalami peningkatan sebesar 3,57 persen dibandingkan periode yang sama pada 2018,

sementara pada Desember 2019 tingkat kunjungan wisman mencapai 6.200 yang juga mengalami peningkatan 49,71 persen dibandingkan November.

Devisa dari wisata turun drastis 

Analis mengatakan, Penurunan devisa pariwisata disebabkan oleh pemberlakuan berbagai pembatasan perjalanan oleh banyak negara untuk mencegah penyebaran COVID-19.Penurunan wistawan berdampak pada devisa yang turun hingga 97 persen.
Warga merespon beragam terkait wisata Aceh.

Dullah (17) warga Banda Aceh mengatakan, wisata penting namun pandemi menghancurkannya, dan wisata itu mahal.

Siti IRT di Pijay mengaku lebih memilih wisata lokal favorit yang terawat namun terjangkau secara ekonomi.

“Belum mikir melancong luar Pijay , kalau Corona masih dimana-mana,”curhat Siti.

Diprediksi kunjungan wisatawan terus menurun karena pandemi , sebelumnya analis mengatakan penurunan devisa RI dari pariwisata mencapai Rp 300 Triliun.

#PakaiMasker #JagaJarak #CuciTanganPakaiSabun adalah perilaku kunci minimalkan risiko tertular COVID-19. Disiplinkan diri, ingatkan orang lain. covid19.go.id