Pemkab Harus Ambil Bagian Lebih Besar dalam Inisiasi Seni Budaya dan Usulan Nama Pahlawan Nasional dari Gayo

231

Takengon, tanohgayo.com- Sejumlah seniman dataran tinggi Gayo diskusikan hak kekayaan intelektual dan inisiasi tokoh pejuang Gayo yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Diskusi berlangsung pada sela buka puasa bersama (Buber) di sebuah kafe di Kota Takengon, Selasa (20/4/2021).

Acara yang difasilitasi oleh Sanggar Kuta Dance Takengon tersebut dirangkai dengan diskusi tentang kerja-kerja seni dan budaya di tanah Gayo serta program kerja tahun 2021-2022.

Hadir dalam acara tersebut diantaranya adalah Ana Kobat (pimpinan Sanggar Kuta Dance), penggiat seni-budaya Gayo Achrial Bsc, Julfian Karim, Zulfikar Aman Dio, Salman Yoga S (pimpinan The Gayo Institute dan Teater Reje Linge), Irfan (Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah) serta sejumlah pelaku seni Takengon lainnya.

Diantara tema menarik dari diskusi tersebut adalah menyangkut sejumah kesenian dan kuliner Gayo yang telah berhasil menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dan Kekayaan Intelektual Kolektif (HIKK) dari dua Kementerian Republik Indonesia serta sejumlah jenis kesenian dan kuliner Gayo lainnya yang berpotensi untuk diusulkan pada program lanjutan berikutnya.

Namun sejumlah seniman justru menyanyangkan atas keberhasilan kesenian dan kuliner Gayo yang berhasil masuk dalam WBTB dan HIKK justru peran pemerintah daerah sangat minim.

Para seniman menilai, pemerintah daerah melalui dinas terkait selayaknya lebih dominan dalam berinisiasi dan mempasilitasi, terlebih pengusulan WBTB saat ini selain dari Badan Pelestarian Nilai Budaya dan Sejarah (BPNB) juga dapat diusulkan oleh dinas terkait di kabupaten masing-masing.

Tema lainnya yang tak kalah menarik adalah menyangkut tokoh pejuang Gayo yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. “Kita tidak tau bagaimana sudah lanjutan pengusulan Panglime Aman Dimot sebagai Pahlawan Nasional, dimana kendala dan hal apa lagi yang perlu disiapkan agar dapat diterima karena pengajuannya sudah lebih dari 10 tahun. Sementara itu sejumlah tokoh seniman sudah berinisiasi mengusulkan tokoh pejuang Gayo lainnya sebagai calon Pahlawan Nasional. Sebut saja Aman Nyerang, Pang Tengku Tapa, Inen Mayak Teri, Abdul Wahab, Onot Pejebe, Tgk. H. Ilyas Leube, dan lain-lain,” terang Salman Yoga S.

Terkait pejuang Gayo Aman Nyerang Ana Kobat sudah memulai promosi dan eksplorasi sejarahnya melalui sendra/teaterikal tari. “Kita sudah mengangkat sejarah perjuangan Aman Nyerang dalam bentuk tari agar lebih dikenal oleh masyarakat, namun untuk sampai pada tahap pengusulan sebagai Pahlawan Nasional dari Gayo tentu butuh sinergisitas dari lembaga terkait dan oleh pemerintah daerah sendiri,” kata Ana Kobat.

Pemerhati seni-budaya dan Sejarah Gayo Aman Dio menimpali dan menyoroti keberpihakan program kerja daerah dalam hal dimaksud. “Para seniman harus terus berkerja dan berkarya, namun kita juga tentu sangat berharap agar pemerintah daerah dapat mengambil bagian yang lebih besar dalam hal ini melalui program-program kerjanya di dinas-dinas terkait”, jelas Aman Dio.

Selain hal di atas, para seniman juga bersepakat dan mendesak agar pemerintah daerah Aceh Tengah kembali memfasilitasi kembali terbentuknya Dewan Kesenian yang pada tahun sebelumnya sempat digelar musyawarah secara demokrasi, namun mentok pada time line karena terjadi pemilihan ketua tiga kali seri. (SP/AG)