IOM, Pemda Prioritaskan Penyelamatan Jiwa Pengungsi Rohingya Terbaru di Aceh

74
Warga Rohingya terdiri dari 57 laki-laki, termasuk 13 anak di bawah umur, mendarat dengan selamat di kecamatan Mesjid Raya di kabupaten Aceh Besar /dok.IOM

Jakarta – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan pemerintah setempat memberikan bantuan penyelamatan jiwa dan memenuhi kebutuhan pelindungan mendesak untuk kelompok ketiga dari pengungsi Rohingya yang tiba dengan perahu sejak pertengahan November 2022.

Baru-baru ini, 57 laki-laki, termasuk 13 anak di bawah umur, mendarat dengan selamat di kecamatan Mesjid Raya di kabupaten Aceh Besar kemarin dini hari (25/12), dengan bantuan masyarakat setempat.

Perahu yang hanya ditumpangi oleh laki-laki tersebut diyakini telah berangkat dari Bangladesh dan menghabiskan waktu hampir sebulan di laut.

Meskipun pendaftaran dan identifikasi formal belum selesai, tim tanggap darurat IOM melaporkan bahwa layanan kesehatan lokal hadir di lokasi pendaratan dan telah membantu kasus darurat medis. Tak lama setelah mendarat, pihak berwenang setempat memindahkan kelompok tersebut ke akomodasi sementara di fasilitas yang tidak terpakai milik Dinas Sosial kabupaten.

“Khususnya saat ini, dengan kepedulian yang begitu tinggi terhadap kesejahteraan kelompok Rohingya lainnya yang masih dilaporkan berada di laut, kami memahami betapa berisikonya perjalanan perahu ini, dan kami senang dapat mendukung pemerintah dan masyarakat lokal di Indonesia, dalam semangat kemanusiaan, untuk membantu mereka yang membutuhkan pelindungan,” kata Louis Hoffmann, Kepala Misi IOM di Indonesia.

IOM telah berkoordinasi Satgas PPLN Nasional dan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan dalam hal pendaratan yang aman dan akan terus bekerja dengan mitra-mitra terkait untuk memastikan tersedianya layanan kesehatan (termasuk pengujian terhadap COVID-19), tempat tinggal sementara yang memadai, air dan sanitasi, pelindungan dan dukungan kesehatan mental dan psikososial terpenuhi dalam beberapa hari mendatang.

IOM Indonesia saat ini membantu lebih dari 7.000 pengungsi di Indonesia dengan perawatan dan bantuan yang komprehensif, termasuk akomodasi, perawatan kesehatan, dukungan kesehatan mental dan psikososial, pendidikan, dan kebutuhan dasar.

IOM juga bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mencegah dan melawan perdagangan orang, memperkuat pelindungan bagi pekerja migran, meningkatkan pengurangan risiko bencana dan tanggap bencana, serta mendukung sistem manajemen perbatasan terpadu dengan fokus khusus memerangi pandemi COVID-19 saat ini.

Dengan adanya laporan dari media tentang kapal-kapal lain yang masih terdampar di laut, termasuk di mana dikhawatirkan banyak menelan korban jiwa, IOM sekali lagi mendesak Negara-Negara di kawasan regional ini untuk menegakkan komitmen Deklarasi Bali 2016, termasuk ikrar ASEAN untuk melindungi yang mereka yang paling rentan dan memastikan tidak ada yang tertinggal, terutama pada saat yang sangat menantang secara global ini.

IOM mendesak kolaborasi atasi krisis

Dalam pernyataannya baru-baru ini, IOM mendesak Negara-negara di kawasan regional ini untuk bekerja segera dan secara bersama-sama menghindari terulangnya krisis tahun 2015 di mana ribuan laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengalami tantangan luar biasa dalam mengakses layanan dan bantuan penyelamatan jiwa yang mengakibatkan banyaknya nyawa yang hilang di laut. IOM juga menegaskan kembali bahwa tanggapan terkoordinasi untuk penyelamatan nyawa, termasuk operasi pencarian dan penyelamatan dan pendaratan yang aman, sangat dibutuhkan.

“Pemerintah dan mitra kemanusiaan telah berkumpul dan bekerja bersama sebelumnya untuk mengatasi hal serupa di kawasan regional ini. Kami mengingat kembali komitmen untuk mengatasi migrasi ireguler melalui jalur laut dan pelestarian kehidupan di laut yang dilakukan melalui Bali Process dan mekanisme Konsultatif Regional. Dengan nyawa dan keselamatan para pengungsi tergantung pada keseimbangan, di tangan para penyelundup, kami sekali lagi menyerukan medesaknya aksi regional,” kata Hoffmann.

Bantuan kemanusiaan IOM untuk pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh didanai oleh U.S. Department of State’s Bureau of Population, Refugees, and Migration (PRM) dan European Civil Protection and Humanitarian Aid Operations (ECHO).(rel)