Home Seputar Gayo Munirin Reje:Wabup Firdaus Mangkir, MAG Gelar Sidang

Munirin Reje:Wabup Firdaus Mangkir, MAG Gelar Sidang

60
Wakil Ketua I Majelis Adat Gayo Aceh Tengah Banta Cut Aspala saat menemui Wakil Bupati Aceh Tengah Firdaus untuk dimandikan secara adat.

Takengon, tanohgayo.com-Wakil Bupati Aceh Tengah Firdaus, SKM absen saat digelar prosesi adat munirin reje (memandikan raja-red) dan hanya dilakukan kepada Bupati Shabela Abubakar, Senin (17 Feb 2020) lalu.

Menanggapi ketidakhadiran Firdaus mengikuti proses munirin reje, Ketua Majelis Adat Gayo (MAG) Aceh Tengah melalui Wakil Ketua I (MAG) Aceh Tengah Banta Cut Aspala mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemui Wakil Bupati Firdaus, 4 (empat-red) hari sebelum kegiatan itu dilaksanakan. “Wakil Bupati mengatakan akan melakukan perjalanan dinas keluar daerah,” Ungkap Aspala.

Meski mengatakan akan melakukan perjalanan dinas, ternyata pihak MAG melihat Firdaus menghadiri undangan DPRK Aceh Tengah pada Sidang Paripurna Istimewa Peringatan HUT Kute Takengen 443, yang bertepatan pada acara munirin reje dilaksanakan.

“Setelah bupati bersedia untuk dimandikan, kami pun meminta ijin untuk menuju kediaman wakil bupati pada saat itu, lalu kami (Mango-red Gayo) dan menyatakan kalau wakil bupati harus dimandikan secara adat bertujuan untuk membersihkan pemerintahanya dari kesialan. Si jeroha amaten, si koteka anuten, enti osah keruh ulu nuwih, kati sawah jernih wih i kala (yang bagus dipegang, yang buruk dihanyutkan, jangan sampai keruh air dihulu supaya jernih air dihilir),” kata Aspala menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (19/02/2020) di ruang kerjanya.

Tambahnya, wakil bupati saat itu enggan dimandikan dan menyetujui jika hanya Bupati Aceh Tengah saja yang dimandikan. “Saya tidak usah dimandikan dan saya ikhlas,” kata Banta Cut Aspala meniru pernyataan Wakil Bupati Firdaus.

Prosesi munirin reje, jelas Aspala, bukan kehendak dari pemerintah daerah melainkan perintah adat yang dilaksanakan secara turun temurun di Gayo, hanya saja di Aceh Tengah perdana dilakukan di pemerintahan Shabela-Firdaus. “Ini bukan kehendak pimpinan daerah, melainkan kehendak adat istiadat secara turun temurun di Gayo,” terang Aspala.

Sementara itu Ketua bidang hukum adat H.MY Sidang Temas mengaku, ritual adat tentang munirin reje telah turun temurun dilakukan di Gayo, hanya saja tidak dibudayakan. “saat usia 10 tahun, saya menyaksikan langsung prosesi munirin reje ini, pada jaman belanda itu yang dimandikan Reje (Kepala Desa-red), reje dimandikan oleh pengulu dan kini usia saya sudah 92 tahun. Baru menyaksikan kembali,” terang pria kelahiran 28 Februari 1928 itu.

Ia mengaku, sebutan Reje yang disematkan kepada Bupati Aceh Tengah sejak dilakukan prosesi munik ni Reje (menaikkan raja-red). “Prosesi munirin reje adalah rentetan dari munik ni reje pada 02 Januari 2018 yang lalu, keduanya satu paket,” terang Sidang Temas.

Atas ketidak hadiran Wakil Bupati Aceh Tengah itu pihak Majelis Adat Gayo akan meggelar rapat paripurna dengan mengikut sertakan tokoh-tokoh adat di kabupaten berhawa sejuk itu. (WR)