Arwin Mega Minta Masyarakat Waspada Covid-19 Varian Delta dengan Prokes Ekstra

392

Takengon, tanohgayo.com– Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengakui virus corona varian delta sulit dikendalikan. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers secara virtual melalui YouTube resmi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI pada Kamis (15 Juli 2021).

“Saya mohon supaya kita paham, varian Delta ini varian yang tidak bisa dikendalikan,” kata Luhut.

Sehubungan hal tersebut, Ketua DPRK Aceh Tengah Arwin Mega juga meminta masyarakat untuk waspada Covid-19 Varian Delta. “Meski saat ini belum ditemukan di Kabupaten Aceh Tengah, namun kita harus tetap waspada, kita tetap berdoa semoga tidak sampai ke daerah kita,” kata Arwin Mega, Jum’at (16 Juli 2021).

Salah satu upaya adalah dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes) dengan ekstra, tidak lengah dalam segala kesempatan jika keluar dari rumah meski belum ada yang terjangkit virus varian delta itu.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat disuntik vaksin yang telah disediakan oleh pemerintah secara gratis. “Tidak usah takut untuk disuntik, tidak terjadi apa-apa, jangan percaya hoak yang beredar, ini salah satu ikhtiar supaya imun tubuh kuat dan tidak terpapar Covid-19,” pesannya.

Ia juga mengingatkan untuk selalu menjaga jarak, memakai masker, rajin mencuci tangan dengan air mengalir, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas jika tidak penting, sejaligus mematuhi anjuran yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. “Ini salah satu cara yang sangat ampuh menekan penyebaran virus Covid-19 dan menghalau masuknya virus varian delta,” kata Arwin Mega.

Virus varian Delta itu lebih ganas dari virus Corona yang tengah merebak saat ini. Virus itu memiliki geliat mutasi lebih cepat 60 persen dibandingkan dengan virus yang sedang dihadapi saat ini. Bahkan ganasnya lagi, virus tersebut tidak mengenal usia, siapa saja bisa terjangkit, baik usia tua, muda, maupun anak-anak.

Virus dengan varian delta diketahui memiliki gejala yang berbeda dengan Covid-19. Lebih detail kata Arwin, gejala yang paling umum yang ia pernah baca di jejaring media sosial adalah, deman, batuk kering, dan kelelahan.

Kemudian gejala yang spesifik adalah rasa tidak nyaman dan nyeri tenggorokan, diare, konjungtivitis (mata merah), sakit kepala, hilangnya indera perasa atau penciuman, dan ruam pada kulit atau perubahan warna pada jari tangan dan jari kaki.

“Gejala yang paling serisnya lagi adalah kesulitan bernafas atau sesak nafas, nyeri pada dada atau rasa tertekan pada dada, hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak (Lumpuh), jika gejala ini mulai terasa pada tubuh kita, segera cek kondisi kesehatan pada pusat pelayanan kesehatan, jangan dibiarkan,” ungkap Arwin.

Virus varian delta sudah mendominasi Pulau Jawa. Varian ini, penularannya lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya, yakni varian Alpha. Varian delta, bukan hanya menyerang Indonesia. Tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Bahkan juga negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda, dan Rusia. Termasuk juga di Amerika Serikat. Tidak hanya Indonesia saja yang kena, itu Inggris kena, Belanda kena. Perdana Menteri Belanda minta maaf karena dia menyetujuinya lepas masker pada beberapa waktu yang lalu, dan sekarang naik eksponensial

Dipaparkan Luhut, “Ini dari studi yang saya tahu 5 kali atau 6 kali (lebih menular), tergantung siapa yang meneliti, tapi yang jelas jauh lebih dahsyat dari varian Alpha. Jadi jangan ada yang beranggapan bahwa kami tidak bergerak, kami sangat bergerak,” ucap Luhut.

Dilansir dari Kompas.com, data Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI pada 11 Juli 2021 menunjukkan, ada 615 kasus varian Delta di Indonesia. Jumlah tersebut tersebar di 13 provinsi.

Varian Delta paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dengan jumlah 264 kasus, disusul Jawa Barat 183 kasus, Jawa Tengah 92 kasus, Jawa timur dan Nusa Tenggara Barat sama-sama 13 kasus.

Kemudian, Sulawesi Selatan 11 kasus, Banten 7 kasus, Kalimantan Timur 4 kasus, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Kalimantan Tengah sama-sama 3 kasus, Sumatera Utara 2 kasus, dan Gorontalo 2 kasus. (wyra)